Mereka yang dipanggil di antaranya adalah, Menko Perekonomian Sofyan Djalil, Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro, Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo, serta Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Muliaman Hadad.
Usai pertemuan, Agus Martowardojo menjelaskan sejumlah hal yang didiskusikan bersama Jokowi. Dia menyebutkan, ada sejumlah risiko yang harus diwaspadai yang bisa menyebabkan tekanan terhadap nilai tukar rupiah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami mendengarkan pemahaman tentang kondisi utang luar negeri. Kita tahu utang luar negeri ada peningkatan," kata Agus saat konferensi pers di Kantor Presiden, Jakarta, Rabu (11/3/2015).
Kedua, lanjut Agus, adalah tentang pasar keuangan. "Kalau pasar uang, saat ini memang ada cukup tekanan, yang lebih banyak berasal dari eksternal" ujarnya.
Kondisi eksternal yang menjadi perhatian, tambah Agus, utamanya adalah potensi kenaikan suku bunga acuan oleh bank sentral AS (The Federal Reserves/The Fed). Dengan ekonomi Negeri Paman Sam yang semakin membaik, kenaikan bunga di sana sepertinya sudah di depan mata.
"Kelihatannya karena ekonomi AS yang membaik di sisi unemployment (ketenagakerjaan), inflasi, membuat keyakinan bahwa penyesuaian akan dilakukan pada Juni sampai September," ungkap Agus.
Selain AS, demikian Agus, situasi di China pun patut diwaspadai. Pasalnya, ekonomi Negeri Tirai Bambu masih dalam tren perlambatan. Tahun ini, ekonomi China diperkirakan tumbuh 7%, melambat dari tahun lalu yang 7,4%.
Kemudian, Agus juga menggarisbawahi harga komoditas dunia juga masih akan terkoreksi. Ini termasuk komoditas andalan ekspor Indonesia.
"Harga komoditas dunia masih terkoreksi. Delapan komoditas andalan Indonesia terkoreksi sampai 11% di 2015 ini," jelas Agus.
Hari ini, dolar AS kala penutupan pasar berada di posisi Rp 13.215. Posisi dolar AS terkuat bahkan mencapai Rp 13.240.
(hds/dnl)











































