Berita Begal Sampai ke Pasar Saham, Investor Resah

Berita Begal Sampai ke Pasar Saham, Investor Resah

- detikFinance
Kamis, 12 Mar 2015 07:39 WIB
Berita Begal Sampai ke Pasar Saham, Investor Resah
Jakarta - Wilayah Jabodetabek diramaikan kasus kejahatan pembegalan. Kasus ini memengaruhi rasa aman warga Jakarta dan sekitarnya. Bahkan kasus tersebut sudah mulai menjalar ke aktivitas pasar saham.

Alasannya, 95% pelaku pasar saham dalam negeri berdomisili di Jabodetabek. Maraknya begal bisa memberi sentumen negatif di sisi keamanan.

"Pasar modal Indonesia, dalam posisi tahun lalu capai performance terbaik. Sampai Maret ini cukup mengesankan. Jangan sampai isu begal membegal berpengaruh ke market," kata Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa, Bursa Efek Indonesia (BEI), Syamsul Hidayat Sabtu lalu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bahkan, Ekonom Faisal Basri memiliki pandangan bila begal ini mulai terdengar di dunia internasional, bakal jadi sentimen negatif untuk perekonomian Indonesia.

"Pak Jokowi belum berbuat apa-apa, dampaknya belum dirasakan, tapi karena ada manfaat dari turunnya ekonomi negara tetangga, konflik Jepang-China, kita dilihat baik. Benefit ke kita baik, asal begal jangan diumumkan ke internasional," ujar Faisal.

Berikut pandangan dari pelaku pasar saham soal maraknya aksi begal yang mengkhawatirkan, seperti dirangkum, Kamis (12/3/2015).

1. Faktor Keamanan Hilang

Maraknya kasus begal di sekitaran Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek) diperkirakan bisa mengancam kegiatan ekonomi setempat. Kegiatan investasi di pasar modal juga diprediksi bisa terganggu.

Penasihat Asosiasi Emiten Indonesia (AEI) Airlangga Hartato mengatakan, faktor keamanan yang selama ini menjaga kepercayaan investor bisa berkurang akibat kasus begal ini.

Apalagi, kata Airlangga, faktor keamanan merupakan salah satu poin penting kepercayaan pemodal untuk berinvestasi di dalam negeri.

"Kalau saya lihat faktor keamanan sudah hilang. Ini kan fenomena nasional yang sudah terjadi di beberapa daerah di Pulau Jawa. Ini sudah meresahkan masyarakat, investor juga," kata Airlangga.

Saat ini, jumlah dana asing di pasar modal dalam negeri masih tinggi berkat aksi beli yang dilakukan sejak awal tahun ini. Jumlah dana asing yang sudah masuk mencapai Rp 10,9 triliun.

Jangan sampai hot money ini sampai 'kabur' semua ke luar negeri hanya gara-gara isu keamanan dalam berinvestasi. Kepercayaan investor bisa terganggu jika ini sampai terjadi.

Airlangga menambahkan, pihak kepolisian sebagai penegak hukum perlu bertindak tegas memberantas aksi begal ini. Jangan sampai masyarakat dan investor terus merasa resah akibat kejadian ini.

2. Kalau Tak Aman, Susah Investasi

Penasihat Asosiasi Emiten Indonesia (AEI) Airlangga Hartato menilai, aksi begal ini sudah menjadi fenomena nasional yang tidak hanya terjadi di Jakarta. Hal ini tentu akan berpengaruh terhadap investasi di Indonesia, termasuk di pasar modal.

"Kalau saya lihat faktor keamanan sudah hilang. Ini kan fenomena nasional yang sudah terjadi di beberapa daerah di Pulau Jawa. Ini sudah meresahkan masyarakat, investor juga," papar Airlangga.

Dia menjelaskan, faktor keamanan menjadi hal utama investor mau menanamkan modalnya di suatu negara. Maraknya aksi begal ini, membuat investor menilai Indonesia tidak lagi aman.

"Kalau terus begini akan dianggap negara sudah tidak aman, jadi susah untuk investasi. Faktor keamanan tidak terjamin," ucap dia.

Airlangga mengatakan, kepolisian sebagai penegak hukum perlu bertindak tegas mengatasi terjadinya aksi begal. Jangan sampai keresahan masyarakat terus melebar akibat kejadian ini.

"Tentunya kepolisian harus memberantas, tak ada otoritas lain. Sejauh ini belum ada pengaruh terhadap investor, tapi jangan sampai menunggu kejadian baru bertindak. Yang paling penting ciptakan kondisi aman di negara ini," jelasnya.

3. Negara Aman, Investasi Masuk

Para pelaku pasar saham mendesak pihak kepolisian segera memberantas kasus begal ini. Pasalnya, jika dibiarkan berlarut-larut, faktor keamanan dalam berinvestasi bisa terancam.

"Kalau terus begini akan dianggap negara sudah tidak aman, jadi susah untuk investasi. Faktor keamanan tidak terjamin," kata Penasihat Asosiasi Emiten Indonesia (AEI) Airlangga Hartato.

Para pelaku pasar modal juga mendesak otoritas yaitu pihak Kepolisian Republik Indonesia (RI) untuk segera memberantas kasus begal ini.

"Tentunya kepolisian harus memberantas, tak ada otoritas lain. Hanya kepolisian yang bisa," jelas Airlangga.

Imbas dari kasus begal ini, menurut Airlangga, belum terlalu mengganggu perekonomian dalam negeri. Namun jika tidak diselesaikan dengan segera maka imbasnya bisa signifikan.

"Sejauh ini belum ada pengaruh terhadap investor tapi jangan sampai menunggu kejadian baru bertindak. Yang paling penting ciptakan kondisi aman di negara ini," katanya.

4. Penegakan Hukum Jadi Tanda Tanya Besar

Kekhawatiran para pengusaha dan investor akan maraknya aksi begal di Jabodetabek dibenarkan pengusaha nasional Sandiaga Uno. Pria yang akrab disapa Sandi ini mengatakan, penegakan hukum harus benar-benar dilakukan.

"Sudah ada kekhawatiran. Kalau yang saya rasa itu perlu ditingkatkan penegakkan hukumnya," kata Sandi kemarin.

Sebagai pengusaha, Sandi melihat, penegakan hukum terkait isu begal saat ini masih kurang optimal. Dia mengharapkan aparat keamanan dalam hal ini Kepolisian RI bisa lebih tegas memberantas begal-begal atau kawanan penjahat lainnya.

"Penegakan hukum selama ini jadi tanda tanya besar. Polri harus fokus melihat ini sebagai salah satu persoalan," tuturnya.

Karena bukan tidak mungkin menurutnya, daya tarik investasi di Indonesia akan terganggu dengan maraknya aksi begal dan kriminalitas lain yang kini tengah marak. Faktor keamanan adalah salah satu yang terpenting dalam aspek daya tarik investasi.

"Ease ofβ€Ž doing business (kemudahan berbisnis) dengan keamanan itu saling terkait," tutupnya.
Halaman 2 dari 5
(dnl/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads