Jokowi Masih 'Bulan Madu', Dolar Harusnya di Rp 12.500

Jokowi Masih 'Bulan Madu', Dolar Harusnya di Rp 12.500

- detikFinance
Jumat, 13 Mar 2015 12:30 WIB
Jokowi Masih Bulan Madu, Dolar Harusnya di Rp 12.500
Didik J Rachbini
Jakarta - Penguatan dolar Amerika Serikat (AS) sampai ke level Rp 13.000 dinilai sangat dipengaruhi faktor eksternal. Pasalnya, bila hanya melihat sentimen domestik semestinya dolar AS masih stabil di kisaran Rp 12.500.

Mengutip data perdagangan Reuters, dolar AS saat ini diperdagangkan di Rp 12.195. Ini merupakan posisi terkuat dolar AS hari ini, sementara terlemahnya di Rp 13.145.

Didik J Rachbini, Ketua Lembaga Pengkajian, Penelitian, dan Pengembangan Ekonomi Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, mengatakan bila hanya melihat faktor domestik semestinya dolar AS bisa ditekan di Rp 12.500. Dia menilai pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) masih dalam masa 'bulan madu' dan sudah banyak kebijakan terobosan yang dilakukan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Didik mencontohkan perubahan radikal di bidang subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM). Mulai 1 Januari 2015, pemerintahan Jokowi mencabut subsidi untuk BBM jenis Premium. Sementara Solar diberikan subsidi tetap (fixed subsidy) Rp 1.000/liter. Ini membuat anggaran negara lebih sehat, dan menurunkan impor minyak.

"Harusnya dolar itu stabilnya Rp 12.500, karena pemerintahan Jokowi ini dalam masa 'bulan madu'. Modal portofolio banyak yang masuk ke Indonesia dan ada kebijakan baru yang baik bagi investor, misalnya impor minyak berkurang," jelas Didik di Menara Kadin, Jakarta, Jumat (13/3/2015).

Namun, lanjut Didik, faktor ekstenal begitu kuat dan tidak bisa dibendung. Faktor itu adalah semakin pulihnya perekonomian di AS sehingga dolar menguat terhadap hampir seluruh mata uang dunia.

"Penguatan ekonomi AS ini dampaknya memang luar biasa. Kita harus hati-hati," tuturnya.

(rrd/hds)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads