PT Toba Bara Sejahtra Tbk (TOBA) mencatat laba bersih US$ 16,1 juta (Rp 193,2 miliar) di akhir 2014. Laba ini turun 20%, dibandingkan laba 2013 yang sebesar US$ 19,9 juta (Rp 238,8 miliar).
Perusahaan tambang milik Jenderal TNI (Purn) Luhut Binsar Panjaitan ini mencatat omzet US$ 499,9 juta (Rp 5,9 triliun) di 2014, naik 18% dibandingkan tahun sebelumnya US$ 421,8 juta (Rp 5 triliun).
Naiknya omzet ini berkat meningkatnya volume penjualan sebesar 23,4% dalam periode yang sama. Dari 2013-2014, rata-rata harga batu bara pada Newcastle (NEWC) Index menurun 17,0% dari US$ 85,3/ton di 2013, menjadi US$ 70,8/ton di 2014.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Perseroan telah menjual batu baranya ke beberapa negara di Asia seperti Tiongkok, Korea, India, dan Taiwan. Beberapa trader berskala internasional dan end-users seperti perusahaan pembangkit tenaga listrik merupakan pelanggan utama Perseroan," kata perseroan dalam siaran pers, Senin (16/3/2015).
Volume produksi Perseroan meningkat sebesar 24,6% dari 6,5 juta ton di 2013 menjadi 8,1 juta ton di 2014, karena didukung oleh lebih tingginya kontribusi dari dua anak usahanya.
Perseroan saat ini memiliki 4 anak perusahaan, tiga bergerak di bidang produksi batu bara, yaitu PT Adimitra Baratama Nusantara (ABN), PT Indomining (IM), dan PT Trisensa Mineral Utama (TMU), serta satu di bidang produksi kelapa sawit yaitu PT Perkebunan Kaltim Utama I (PKU).
ABN berlokasi di Sanga-Sanga, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur. ABN beroperasi dengan izin IUPOP dan mulai beroperasi pada September 2008. ABN memiliki lahan seluas 2.990 ha, dengan perkiraan sumber daya batu bara sebesar 156 juta ton.
IM juga berlokasi di Sanga-Sanga dengan izin IUPOP dan mulai operasi pada Agustus 2007. IM memiliki lahan seluas 683 ha, dengan perkiraan sumber daya batu bara sebesar 37 juta ton.
Sedangkan TMU berlokasi di Loa Janan, Muara Jawa, dan Sanga-Sanga, dengan izin IUPOP dan mulai beroperasi pada Oktober 2011. TMU memiliki lahan seluas 3.414 ha, dengan perkiraan sumber daya batubara sebesar 43 juta ton.
Secara keseluruhan, jumlah estimasi sumber daya batubara yang dimiliki Perseroan saat ini adalah sebesar 236 juta ton.
Perusahaan tambang ini melantai di Bursa Efek Indonesia (BEI) sejak 6 Juli 2012. Emiten berkode TOBA ini menawarkan saham perdana saat initial public offering (IPO) di Rp 1.900 per lembar.
Pada perdagangan hari ini hingga pukul 11.40 waktu JATS, harga saham TOBA turun 5 poin (0,57%) ke level Rp 870 per lembar. Sahamnya baru diperdagangkan 4 kali dengan volume 61 lot senilai Rp 5,2 juta.
(ang/dnl)











































