Kondisi ini sebenarnya memberikan dampak positif terhadap kalangan dunia usaha. Karena setidaknya pengusaha bisa berhati-hati dalam pengelolaan utang, khususnya utang dalam valuta asing.
"Situasi rupiah penuh dengan volatilitas dan pebisnis harus bisa mengamankan diri sendiri," kata David Sumual, Ekonom PT Bank BCA Tbk dalam diskusi terkait rupiah di Kopitiam, Grand Indonesia, Jakarta, Rabu (18/3/2015)
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Rupiah melemah, nanti utang pasti akan tambah banyak," ujarnya.
Ada beberapa cara yang bisa dilakukan oleh pengusaha agar terhindar dari risiko tersebut. Salah satunya menggunakan skema lindung nilai atau hedging.
"Bila tidak berhati-hati perusahaan bisa semakin terpuruk karena biaya cicilan utang atau saat utang jatuh tempo semakin besar," terangnya.
David menambahkan, hal ini sebenarnya juga telah menjadi konsentrasi dari Bank Indonesia (BI). Karena per Oktober 2014 jumlah ULN swasta mencapai US$ 161,3 miliar.
"Karena ekonomi masih dilanda ketidakpastian. Kalau tidak berhati-hati dengan utang luar negeri maka akan bahaya," tegas David.
Di samping itu, terkait dengan paket kebijakan yang dikeluarkan oleh pemerintah, tidak akan efektif dalam waktu dekat. Baik itu soal insentif pajak untuk perusahaan maupun rencana pembentukan reasuransi.
"Paket kebijakan pemerintah itu bukan jangka pendek, tapi paling tahun depan baru terasa dampaknya," paparnya.
Belum lagi jika nantinya kebijakan terkendala banyak hambatan, sehingga sulit terealisasi. Maka dampaknya pun akan semakin sedikit. David sedikit menyayangkan, karena kebijakan itu seharusnya sudah dari 2 tahun lalu.
"Kan kita sudah seiring dengar itu. Harusnya sudah lama. Tapi yang penting ini dijalankan lebih dulu," tukasnya.
(mkl/ang)











































