Kesadaran Manajemen Risiko Perusahaan RI Sangat Rendah

Kesadaran Manajemen Risiko Perusahaan RI Sangat Rendah

- detikFinance
Senin, 07 Feb 2005 15:15 WIB
Jakarta - Tingkat kesadaran manajemen risiko (risk management pada perusahaan-perusahaan di Indonesia masih rendah. Sektor perbankan dinilai paling tinggi menerapkan prinsip-prinsip manajemen risiko. Rendahnya kesadaran manajemen risiko ini terlihat dari minimnya implementasi perangkat untuk mencegah kerugian baik dalam bentuk finansial maupun non finansial terhadap risiko bisnis yang dihadapi. Demikian diungkapkan oleh Pardi Sudradjat, Sekjen Indonesian Risk Management Association (IRPA) dalam acara temu pakar yang berlangsung di Gedung Bursa Efek Jakarta (BEJ), Senin,(7/2/2005). "Rendahnya kesadaran itu akan membuat kelangsungan hidup perusahaan menjadi tidak terukur hal ini yang membuat banyak perusahaan bangkrut atau bermasalah tanpa bisa terdeteksi sebelumnya," kata Pardi. Beberapa perusahaan mengalami kasus akibat rendahnya kesadaran manajemen risiko seperti gagal bayar obligasi yang dialami PT Bahtera Adimina Samudera Tbk, PT Great River Tbk, PT Barito Pacific Timber Tbk dan PT Bank Golbal Tbk. Menurut Pardi, sektor perbankan menerapkan prinsip-prinsip manajemen risiko karena ketatnya aturan dari Bank Indonesia, meskipun masih ada beberapa bank yang nakal. Selain itu juga karena perbankan dituntut untuk menjaga tingkat kepercayaan dari nasabahnya. Pardi juga menegaskan, bahwa penerapan praktek manajemen risiko sangat diperlukan untuk mencegah kebangkrutan suatu perusahaan. Apalagi, tegas Pardi, manajemen risiko terbukti bisa mendeteksi kejanggalan perusahaan lebih dini ketimbang perusahaan pemeringkat. "Bahkan perusahaan sekelas Enron dan World Com baru didown grade peringkatnya oleh lembaga pemeringkat internasional seminggu sebelum perusahaan itu bangkrut. Padahal jika memakai perhitungan dengan tools managemen resiko potensi kebangkrutan itu sudah mulai tercium sejak jauh-jauh hari," ujar Pardi. Menurut Pardi berbagai risiko bisnis yang dihadapi perusahaan adalah faktor keuangan dan faktor non keuangan. Untuk faktor keuangan contohnya adalah menghitung value at risk (VaR) yakni potensi kerugian selama periode waktu tertentu dengan peluang tertentu. Faktor bisnis non keuangan contohnya adalah produsen mobil yang harus memperhatikan naik turunnya harga baja, perusahaan farmasi harus memperhatikan hak paten yang menjadi andalan jatuh tempo. Sedangkan perusahaan penerbangan contohnya harus memperhatikan ketidakpastian harga BBM, biaya tenaga kerja, ketersediaan dan biaya sewa pesawat dan slot parkir, pangsa pasar jalur gemuk, dan keamanan penerbangan. (qom/)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads