Kenaikan SBI 0,25-0,5 Persen Takkan Ancam Pasar Obligasi
Jumat, 11 Feb 2005 12:17 WIB
Jakarta - Rencana Bank Indonesia (BI) menaikkan suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) untuk mengerem laju inflasi diperkirakan tidak akan mengancam pasar obligasi. Jika kenaikan SBI hanya 0,25-0,5 persen tidak akan memberikan pengaruh terhadap imbal hasil (yield) obligasi. Demikian disampaikan Direktur Bursa Efek Surabaya (BES) Guntur Pasaribu di Gedung Bursa Efek Jakarta (BEJ), Jumat,(11/2/2005)."Rencana kenaikan obligasi tidak perlu dikhawatirkan itu mekanisme pasar. Bagaimanapun BI punya cara tersendiri mengontrol tingkat inflasi, bahkan di AS naik turun suku bunga bisa terjadi. Jadi jika ada kenaikan sebesar 0,25-0,5 persen belum memberikan pengaruh ke obligasi karena rata-rata jangka waktu obligasi panjang," kata Guntur. Menurut Guntur, saat ini obligasi masih memberikan yield yang lebih tinggi sebesar 300-400 basis poin (3-4 persen) dibandingkan deposito yang memberikan bunga sekitar 7-8 persen per tahun. "Jadi kalau SBI naik 0,5 persen obligasi masih menarik," ujarnya. Selama spread (selisih) yield dengan deposito diatas 200 basis poin maka obligasi masih menarik. Namun jika sudah dibawah 200 basis poin pengaruhnya akan cukup besar karena harus memperhitungkan masalah risiko, antara preimum risk dan gain yang harus sebanding. Menurut Guntur, pada tahun 2005 ini obligasi masih merupakan instrumen investasi yang memberikan tingkat pendapatan paling tinggi dibandingkan portofolio lain seperti saham, derivatif, valas atau deposito. "Dari sisi yield belum ada yang menandingi, tentunya keamanannya juga kita lihat dengan selektif terutama dari obligasi korporasi karena kalau obligasi pemerintah itu zero risk," katanya. Rata-rata yield obligasi korporasi saat ini sebesar 11,5-12 persen per tahun. Untuk obligasi negara (Surat Utang Negara/SUN) jangka waktu lima tahun sebesar 9,398 persen per tahun dan jangka waktu 10 tahun sebesar 10,054 persen per tahun. "Kalau dengan pendapatan reksa dana kita bersaing sehat, tapi reksa dana itu kan terdiri dari berbagai portofolio ada yang yieldnya tinggi ada juga yang rendah belum termasuk potongan fund manager, fee transaksi, kustodian. Jadi kita harus membandingkan net yieldnya. Ini supaya investor punya strategi tidak hanya berinvestasi dalam satu instrumen," jelas Guntur. Sejak awal tahun 2005 hingga saat ini BES telah mencatat Kontrak Perjanjian Pendahuluan Pencatatan Emiten (KP3E) untuk obligasi sebesar Rp 1,275 triliun. Obligasi-obligasi itu akan diterbitkan oleh Astra Sedaya Finance, Panin Sekuritas, dan Bank NTB, belum termasuk obligasi PT Apexindo Duta Pratama Tbk yang berencana menerbitkan obligasi sekitar Rp 750 miliar. "Puncak emisi obligasi oleh emiten korporasi akan terjadi sekitar Maret sampai Juni setelah laporan keuangan 2004 selesai," demikian Guntur Pasaribu.
(qom/)











































