Kubu Abiprayadi Riyanto Ingin Jadikan Bursa Saham Lebih Merakyat

Kubu Abiprayadi Riyanto Ingin Jadikan Bursa Saham Lebih Merakyat

Dewi Rachmat Kusuma - detikFinance
Selasa, 14 Apr 2015 13:50 WIB
Kubu Abiprayadi Riyanto Ingin Jadikan Bursa Saham Lebih Merakyat
Jakarta - Hari ini, paket bakal calon direksi Bursa Efek Indonesia (BEI) mempresentasikan visi-misi masing-masing di hadapan para anggota Asosiasi Perusahaan Efek Indonesia (APEI).

Kursi direksi BEI bakal diperebutkan 4 paket yaitu paket Abiprayadi Riyanto, paket Reynaldi Hermansjah, paket Samsul Hidayat, dan paket Tito Sulistio.

Satu paket baru yang ingin ikut bersaing adalah paket Ronald T Andi Kasim yang saat ini menjabat sebagai Direktur Utama PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo), tapi nama-nama dari paket ini belum dirilis meski sudah disetujui Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sementara paket Abiprayadi terdiri dari Wijaya Subekti yang akan ditempatkan sebagai Direktur Perdagangan, Supandi untuk Direktur Pencatatan, Trisnadi Yurisman untuk Direktur Pengawasan, Patricius Sendjojo untuk Direktur IT, Nicky Hogan untuk Direktur Pengembangan, dan Susanty Wijaya untuk Direktur Keuangan.

Maju sebagai calon direksi BEI, Abi mengusung misi Pasar Modal untuk Semua yaitu pasar modal yang berkualitas untuk kemajuan ekonomi dan kemakmuran masyarakat Indonesia.

"Kami ingin menjadikan bursa terkemuka di dunia. Pasar modal untuk semua. Selama ini bursa ditaruh di menara gading (kelas atas), kita ingin lebih merakyat," ujar Abi saat ditemui di Gedung BEI, Jakarta, Selasa (14/4/2015).

Dia menyebutkan, setidaknya ada 2 aspek penting untuk menjadikan pasar modal sebagai wahana investasi bagi semua lapisan masyarakat di Indonesia.

Pertama, aspek horizontal dengan menambah jumlah dan meluaskan cakupan investor dan emiten. Kedua, aspek vertikal melalui peningkatan kualitas transaksi dan produk investasi.

Selain itu, dalam mempersiapkan Indonesia menjadi salah satu kekuatan ekonomi di tahun 2030, perlu sektor keuangan yang kuat serta adanya reformasi keuangan total agar Indonesia tidak kehilangan potensi GDP US$ 600 miliar pada 2030.

"Kita lakukan financial depening, reformasi keuangan total sehingga opportunity US$ 600 miliar itu tidak hilang. 2030 harus ada peningkatan layanan digital. Yang punya handphone di Indonesia banyak sekali, itu bisa dimanfaatin sebagai sarana akses ke pasar modal," imbuh Abi.

(drk/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads