Ambisi tersebut akan dimasukkan Tito dalam program-programnya yang akan disampaikan kepada Otoritas Jasa Keuangan (OJK) di minggu ketiga bulan ini.
Kubu Tito akan dibantu 6 rekannya yaitu Alpino Kianjaya yang saat ini menjabat sebagai direktur di PT MNC Securities sebagai calon direktur perdagangan dan pengaturan anggota BEI, Lourentius I.D. da Lopez yang saat ini menduduki jabatan direktur utama PT Equity Securities Indonesia sebagai calon direktur pengawasan transaksi dan kepatuhan BEI, Andrew Haswin sebagai direktur penilaian perusahaan, Mohammad Mukhlis sebagai direktur teknologi dan manajemen risiko, Krishna Suparto sebagai direktur keuangan dan SDM, serta Kanya Lakshmi sebagai direktur pengembangan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya sedang membuat satu cara bagaimana persentase lebih besar bukan hanya BUMN-nya tapi total frekuensinya, trading-nya, mudah-mudahan bisa realisasi. Insya Allah. Kita serius untuk komitmen. Target minggu ketiga ini kita sampaikan program-program kita ke OJK," tegas dia saat ditemui di Gedung BEI, Jakarta, Selasa (14/4/2015).
Lebih jauh Tito menjelaskan, selama ini ada serangan keras sekali dari negara tetangga terhadap pasar modal Indonesia
Untuk mengembangkan dan mempertahankan pasar modal Indonesia bisa bersaing di pasar global, salah satu hal yang bisa dilakukan adalah bagaimana memperbaiki portofolio emiten, issuer di Indonesia masih minim dan salah satu issuer terkecil di Asia.
"Yang kalah sama kita cuma Filipina. Kita memerlukan emiten yang bagus dan berkualitas salah satunya privatisasi, tidak bisa pemerintah kalau pada suatu saat pasar tidak baik harusnya pemerintah langsung memprivatisasi perusahaannya," jelas dia.
Selain itu, bagaimana memperkuat broker Indonesia dengan meng-encourge dan meng-educate mereka.
"Itu basic-nya, tapi bikin efisien. Privatisasi itu salah satu tujuannya mengembangkan pasar modal lokal," pungkasnya.
(drk/ang)











































