Awal tahun ini Nat, panggilan akrab Nathaniel Rothschild, sudah berniat menambah kepemilikan sahamnya di Asia Resource Minerals PLC (ARM) dari 17,5% menjadi 30%. Caranya dengan menjamin rekapitalisasi utang Berau senilai US$ 100 juta (Rp 1,3 triliun).
Tak puas dengan menguasai 30% saja, Nat ingin pegang 100% saham induk usaha Berau Coal itu dengan mengajak perusahaan batu bara asal Rusia SUEK PLC.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Nat yang punya perusahaan investasi Vallar PLC diajak berkongsi dengan PT Bumi Resources Tbk (BUMI), perusahaan tambang Grup Bakrie. Pada November 2010 Vallar mengambil alih 75% saham Berau Coal dan 25% saham Bumi Resources senilai US$ 3 miliar.
Vallar PLC pun berubah nama menjadi Bumi PLC. Grup Bakrie saat itu menjadi pemegang saham terbesar Bumi PLC dan berhak menunjuk posisi-posisi kunci di jajaran Direksi dan Manajemen Bumi PLC, khususnya posisi Chairman, CEO dan CFO di Bumi.
Rothschild yang hanya memiliki 11% saham di Bumi Plc mulai mengkritik BUMI terkait pembayaran utang ke China Investment Corporation (CIC) sebesar US$ 600 juta di 2012.
Nat mulai melancarkan isu-isu tak sedap kepada Grup Bakrie. Nat juga mempertanyakan kenapa perusahaan tambang yang banyak utang itu tidak menyelesaikan utangnya sekitar US$ 500 juta kepada Bumi PLC terlebih dahulu.
Nat juga telah menyebarkan isu gagal bayar utang BNBR ke publik dalam upayanya tersebut. Namun, Grup Bakrie menyambut rencana penggulingan ini dengan membatalkan divestasi 75% saham PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS).
Akibat dari isu-isu miring yang dilontarkan Rothschild kepada Bumi Plc, sahamnya perusahaan tambang itu terus menerus tergerus, bahkan sampai saat ini sudah anjlok lebih dari 70% dari harga tertingginya.
Saat itulah, Rothschild mulai mengintensifkan rencananya untuk mengambil alih Bumi Plc dan mengusir Grup Bakrie untuk hengkang dari perusahaan yang dulu bernama Vallar Plc tersebut.
Akhirnya, Grup Bakrie memilih menjual sekitar 23,8% sahamnya di Bumi Plc kepada PT Borneo Lumbung Energy Tbk (BORN) milik pengusaha Samin Tan. Nilai transaksinya mencapai US$ 1 miliar atau sekitar Rp 8,5 triliun.
Tak terima atas langkah Grup Bakrie itu, Nat pun meminta ada perombakan jajaran direksi dan komisaris Bumi PLC. Namun usulan itu ditolak, pemegang saham tapi justru menyetujui Grup Bakrie lepas kepemilikan tak langsung 57.298.534 saham di Bumi PLC atau setara 23,8% dari total modal ditempatkan.
Caranya dengan menukar saham-saham itu dengan 2,3 miliar lembar (10,3%) saham BUMI milik Bumi Plc. Selanjutnya, Bumi Plc menjual sisa 3,9 miliar lembar saham BUMI atau setara 18,9% kepada Grup Bakrie senilai US$ 278 juta (Rp 2,6 triliun) dibayar tunai.
Sepanjang perseteruan Bakrie-Rothschild, saham-saham perusahaan Bakrie yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia (BEI) kena getahnya. Hampir seluruhnya memberikan imbal hasil alias keuntungan yang minus.
Setelah resmi bercerai dengan Grup Bakrie, Bumi PLC berganti nama menjadi ARM. Nat masih punya 17,5% saham di ARM dan berniat meningkatkan kepemilikan sampai 100%.
(ang/dnl)











































