Dari jumlah itu, sebesar 25.000 MW merupakan proyek pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) yang menggunakan batu bara sebagai bahan bakarnya.
Setiap 1 MW PLTU membutuhkan batu bara 4.000 juta ton per tahun. Jika dikalikan 25.000 MW maka dibutuhkan 100 juta ton batu bara tiap tahun. Ini merupakan kabar baik bagi industri dan perusahaan batu bara.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Caranya dengan menguasai 100% kepemilikan saham induk Berau Coal, Asia Resource Minerals PLC (ARM). Nat akan mengajak perusahaan tambang batu bara asal Rusia SUEK PLC.
Seperti dikutip dari Reuters, Rabu (22/4/2015), Rothschild juga berniat memanfaatkan jaringan SUEK untuk menjual batu bara Berau ke China untuk kebutuhan pembangkit listrik. Selama ini SUEK menjadi penjual batu bara terbesar di Asia untuk kebutuhan pembangkit listrik.
Sebelumnya, Kepala Divisi Batu Bara PLN Hilmi Najamuddin mengatakan kebutuhan batu bara untuk PLTU di Indonesia mencapai 82 juta per tahun, naik dari tahun lalu sebanyak 70 juta ton per tahun. Pada 2019, kebutuhan batu bara untuk PLTU di Indonesia bisa mencapai 200 juta ton per tahun.
Dari 25.000 MW PLTU yang akan dibangun pemerintah hingga 2019, PLN mendapat porsi pembangunan 10.000 MW, dan sisanya dibangun oleh swasta.
Produsen batu bara terbesar di Indonesia, termasuk Adaro atau Arutmin, menyatakan kesiapannya untuk memasok batu bara untuk kebutuhan PLTU tersebut.
(ang/dnl)











































