Kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) secara year to date (ytd) mencatatkan pertumbuhan minus.
Dalam periode 30 Desember 2014 hingga 30 April 2015, IHSG sudah turun 2,69%. Lantas, bagaimana mengatur portofolio investasi saat pasar dalam kondisi seperti ini?
Head of Corsec & Business Support Mandiri Investasi Mauldy R Makmur mengatakan, adalah hal yang wajar apabila market berfluktuasi. Yang perlu diperhatikan, bagaimana agar portofolio investasi saat ini, tidak rugi terlalu dalam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia menjelaskan, jika sebelumnya portofolio investasi kita lebih banyak dialokasikan ke saham, cobalah menggesernya ke instrumen investasi yang fluktuasinya tidak terlalu tinggi misalnya reksa dana pasar uang dan pendapatan tetap. Meskipun imbal hasilnya tidak terlalu tinggi, tapi instrumen ini dinilai masih lebih aman.
Saat ini, rata-rata imbal hasil reksa dana pasar uang 6-7% per tahun dan 8-10% per tahun untuk reksa dana pendapatan tetap. Return ini lebih rendah dibanding reksa dana saham yang bisa mencapai rata-rata 15-20% per tahun.
Penempatan uang di reksa dana pasar uang dan pendapatan tetap bisa dilakukan sementara waktu di mana kinerja pasar saham sedang menurun.
"Kalau lagi begini, mainnya yang konservatif dulu di jangka pendek, meskipun imbal hasil nggak setinggi di saham, paling tidak hasilnya nggak minus," katanya. (drk/ang)











































