Jokowi Effect adalah euforia yang didorong oleh terpilihnya Joko Widodo sebagai presiden Republik Indonesia (RI) tahun lalu. Waktu itu pasar saham merespons dengan melonjak tinggi dan rupiah pun menguat.
Sejak Jokowi terpilih jadi presiden, investor asing pun ramai-ramai taruh dana di pasar modal dalam negeri. Saham-saham unggulan pun beranjak naik berkat aksi beli investor asing.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Selama 10 tahun terakhir banyak hal yang belum bisa diselesaikan pemerintahan SBY (Susilo Bambang Yudhoyono). Kemarin masyarakat memilih Jokowi berharap ekonominya akan jauh lebih baik, pertumbuhan ekonomi lebih tinggi, Jokowi diminta untuk bisa membereskan hal-hal yang belum bisa dilakukan SBY," ujarnya kepada detikFinance, Selasa (5/5/2015).
Namun yang terjadi saat ini adalah rupiah melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS), neraca perdagangan defisit, harga kebutuhan pokok melonjak, sehingga ujung-ujungnya daya beli masyarakat turun.
"Ini yang diharapkan investor bisa diselesaikan Jokowi. Sebagian pelaku pasar menginginkan solusi cepat dari Jokowi, berharap pertumbuhan ekonomi bisa 5,8% seperti yang ditargetkan," ujarnya.
Pasar saham yang tumbuh minus sampai perdagangan kemarin hanya Indonesia dan India. Sementara pasar saham di Asia lainnya tumbuh pesat.
(ang/dnl)











































