Alternatif Reshuffle Kabinet, Jokowi Bisa Tambah Stimulus Ekonomi

Alternatif Reshuffle Kabinet, Jokowi Bisa Tambah Stimulus Ekonomi

- detikFinance
Rabu, 06 Mei 2015 11:08 WIB
Alternatif Reshuffle Kabinet, Jokowi Bisa Tambah Stimulus Ekonomi
Jakarta - Isu reshuffle kabinet merebak setelah data pertumbuhan ekonomi Indonesia ‎diketahui melambat hanya 4,7% di kuartal I-2015, jauh lebih rendah dari periode yang sama tahun sebelumnya yang mencapai 5,2%.

Perlambatan ini akan terus berlanjut jika pemerintah pimpinan Presiden Joko Widodo (Jokowi) tidak cepat mengambil keputusan.

Penggantian para menteri ekonomi dinilai menjadi salah satu solusi memperbaiki kinerja perekonomian Indonesia. Menteri-menteri yang dianggap 'tidak apik' bekerja diusulkan di depak dari pemerintahan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Tapi Jokowi juga punya pilihan lain, yaitu memberikan stimulus baru untuk perekonomian. Caranya dengan mengeluarkan paket kebijakan ekonomi yang baru.

"Reshuffle menteri ekonomi. Kita harus paham, ini masalahnya soal ekonomi, dan mereka tidak cukup mampu mengatasi ini," ujar Kepala Riset Universal Broker Indonesia Satrio Utomo kepada detikFinance, Rabu (6/5/2015).

Menurutnya, kinerja menteri ekonomi saat ini tidak cukup baik membuat ekonomi Indonesia semakin maju. Belum ada terobosan baru yang bisa mempercepat pertumbuhan ekonomi.

Satrio menyebutkan, 3 posisi strategis sangat mempengaruhi kinerja ekonomi Indonesia ke depan. Untuk itu, posisi ini harus ditempati orang-orang yang 'pas'.

Tiga posisi menteri ekonomi yang dinilai krusial adalah Menko Perekonomian, Menteri Keuangan, dan Menteri BUMN.

"Dari awal pasar tidak confident dengan tiga menteri ini," katanya.

Satrio menyebutkan, berbagai kebijakan yang diambil pemerintah tidak cukup memberikan dampak positif kepada masyarakat.

Misalnya soal kebijakan menghapus Bahan Bakar Minyak (BBM) bersubsidi. Pencabutan subsidi BBM ini dinilai tidak transparan. Penerapannya tidak cermat dan membuat orang bingung.

Di samping itu, pemerintah juga gagal membujuk Bank Indonesia (BI) untuk menurunkan tingkat suku bunga atau BI rate. Tingginya tingkat suku bunga menekan para investor.

"‎Kalau suku bunga tinggi, orang malas buat kredit, salah satu yang berdampak penjualan mobil, motor turun," kata dia.

Diharapkan hambatan-hambatan ekonomi ini bisa diberantas dengan stimulus ekonomi yang baru atau dengan reshuffle kabinet.

(drk/ang)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads