Kondisi pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) terus terjadi. Hingga depresiasi secara year to date sudah mencapai 6%. Dolar AS yang sudah tembus level Rp 13.000, masih akan mengalami tekanan besar.
Gubernur Bank Indonesia (BI) Agus Martowardojo mengungkapkan bahwa kondisi rupiah sangat terpengaruh perkembangan defisit transaksi berjalan atau current account deficit (CAD) dan persepsi pasar.
"Saya bisa katakan kalau misalnya CAD kita membaik dan persepsi membaik tentu membuat tekanan nilai tukar lebih rendah. Dari sekarang sampai akhir Juni itu adalah periode itu tekanannya besar," ungkap Agus di kantor Kemenko Perekonomian, Jakarta, Jumat (7/5/2015)
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kemudian juga ada aktivitas pembagian dividen, dan pembayaran utang luar negeri oleh perusahaan-perusahaan dalam negeri. Hal ini juga membutuhkan banyak valas.
"Terutama karena kita defisit dalam transaksi berjalan dan kebutuhan korporasi membayar kewajiban keuntungan dan pembayaran bunga ke depan yang selalu jatuh di kuartal II setiap tahun," paparnya
Maka dari itu disarankan agar fasilitas hedging atau lindung nilai dapat dioptimalkan oleh perusahaan. Agar turut menjaga nilai tukar tetap stabil.
"Korporasi ataupun BUMN yang punya utang hedging itu bsa membuat risiko nilai tukar yang dihadapi oleh BUMN terkendali. Karena itu kewajiban tidak diambil di pasar tunai. Tapi kalau ada kontrak lindung nilai itu bisa jauh hari sebelumnya dipersiapkan," paparnya.
(mkl/ang)











































