Pengamat Pasar Uang Farial Anwar mengatakan, fenomena penguatan dolar ini sudah terjadi dalam satu tahun terakhir dan masih akan berlanjut di tahun-tahun berikutnya.
"Sekarang ini spekulan yang dulu pegang emas dan komoditas sudah mulai beralih mengoleksi dolar AS dengan harapan akan naik terus, dan (penguatan) ini memang terjadi," ujarnya ketika dihubungi detikFinance, Senin (11/5/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pulihnya ekonomi AS, kata Farial, akan membuat dolar AS menguat karena dimiing-imingi suku bunga acuan yang bakal naik. Namun demikian, Gubernur The Fed Janet Yellen belum memastikan kapan suku bunga itu akan naik.
"Pasar valas kita sudah dua tahun terombang-ambing gara-gara rencana naiknya suku bunga AS. Kita tidak boleh terus begini, ekonomi kita bisa kacau," jelasnya.
Tahun ini saja, rupiah sudah melemah hingga 6% terhadap dolar AS. Pelemahannya lebih tinggi dibandingkan mata uang negara tetangga seperti baht Thailand (0,6%) atau ringgit Malaysia (0,4%).
(ang/dnl)











































