Masuknya Merdeka sebagai calon emiten di bursa tidak lepas dari hasil kolaborasi dua entitas bisnis ternama di Indonesia yaitu Provident Capital dan Saratoga Investama Tbk serta Garibaldi (Boy) Thohir.
Konsorsium tersebut menjadi pemegang saham utama dengan Provident sebesar 32,8% saham, Saratoga 25,7% saham. Pemegang saham lain adalah perorangan 31% dan Pemda Banyuwangi 10%.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Merdeka mulai berproduksi secara komersial pada 2016 dengan produksi bijih rata-rata sebesar 3 juta ton per tahun. Targetnya adalah meraih produksi tahunan emas hingga 90.000 ounce (oz) dan perak hingga 1 juta oz.
“Kami bersyukur Merdeka dapat segera menjadi bagian dari perusahaan publik. Kami percaya keputusan ini akan menjadikan Merdeka sebagai perusahaan tambang mineral yang memberikan nilai tambah yang optimal kepada para stakeholders dan shareholders dalam jangka panjang," kata Komisaris Merdeka Edwin Soeryadjaya dalam keterangan tertulis, Selasa (12/5/2015).
Presiden Direktur Merdeka, Adi Adriansyah Sjoekri menjelaskan, langkah Merdeka melakukan IPO ini merupakan bagian dari strategi Perseroan untuk memperkuat visi sebagai perusahaan tambang mineral kelas dunia yang dimiliki oleh entitas bisnis terkemuka di Indonesia.
“IPO merupakan langkah strategis untuk memperkuat daya saing Merdeka dalam menjalankan dan mengembangkan bisnisnya. Kami yakin dengan aset dan prospek bisnis yang sangat baik, aksi korporasi ini akan mendapat respon positif dari para investor," jelas Adi seusai Public Expose, di Jakarta hari ini.
(ang/ang)











































