Diketahui pertemuan berlangsung di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI) dari pukul 21.00 WIB selama kurang lebih satu setengah jam. Ada sekitar 50 pelaku pasar yang hadir.
"Sebenarnya mengejutkan untuk kami analis dan yang hadir. Karena saat laporan kuartal I disampaikan, pemerintah masih yakin pertumbuhan ekonomi 5,7% tahun ini. Tapi kemaren beliau menyampaikan bahwa ada revisi ke angka 5,4%. Itu kami baru tahu," ungkap Analis Saham Oso Securities Supriyadi kepada detikFinance, Kamis (14/5/2015)
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kedua adalah akibat pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Meskipun ada keuntungan yang diterima eksportir, tapi tetap saja menggerus keuntungan dari perusahaan domestik. Terutama yang bahan bakunya masih berasal dari impor.
"Ketiga adalah total konsumsi yang menurun dibandingkan tahun sebelumnya. Jadi agak berat untuk dorong pertumbuhan ekonomi," ujarnya.
Keempat adalah melemahnya perekonomian negara-negara yang menjadi mitra dagang utama Indonesia seperti China. Pengaruhnya juga akan terlihat pada sisi ekspor, khususnya sektor pertambangan.
"Mitra dagang utama seperti China, karena perlambatan di sana. Itu berpengaruh signifikan terhadap ekspor," tegas Supriyadi.
Sementara dari langkah yang diambil pemerintah, tidak banyak perubahan dari rencana. Di antaranya adalah dengan percepatan belanja pemerintah dari sisi infrastruktur. Seperti pembangunan pembangkit listrik, waduk dan yang lainnya.
Kemudian adalah dengan perbaikan defisit transaksi berjalan atau current account defisit (CAD). Dengan tantangan di kuartal II dan III selalu ada faktor musiman yang mendorong impor tinggi dan bisa memperlebar defisit transaksi berjalan. Nilai tukar rupiah pun bisa terancam melemah lebih lanjut.
"Langkah tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah agar rupiah tidak terdepresiasi terlalu dalam," jelasnya.
Pemerintah juga menyampaikan upaya menjaga defisit anggaran agar tetap terjaga sesuai yang ditetapkan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Perubahan 2015, sebesar 1,9%. Adalah dengan menjaga penerimaan pajak bisa terealisasi sesuai target.
"Katanya pemerintah akan mengeluarkan tax amnesty. Jadi orang yang selama ini bermasalah pajaknya yang sekarang di luar negeri diberi pengampunan. Mereka cukup bayar pokok utang pajaknya saja, bunga dan dendanya tidak. Tujuannya juga agar dana itu kembali ke dalam negeri," papar Supriyadi.
Di sisi lain, pemerintah juga akan menjaga inflasi terkendali. Khususnya pada beberapa bulan ke depan, karena adanya agenda lebaran Idul Fitri. Untuk bahan pokok, seperti beras akan dilakukan operasi pasar untuk menjaga harganya tetap stabil.
"Pemerintah yakinkan inflasi dapat terkendali," tukasnya.
(mkl/ang)











































