Target Pertumbuhan Ekonomi Hanya 5,4%, Pelaku Pasar Saham Lebih Tenang

Target Pertumbuhan Ekonomi Hanya 5,4%, Pelaku Pasar Saham Lebih Tenang

- detikFinance
Kamis, 14 Mei 2015 18:12 WIB
Target Pertumbuhan Ekonomi Hanya 5,4%, Pelaku Pasar Saham Lebih Tenang
Jakarta - Menteri Keuangan Bambang Brodjonegoro telah menjelaskan secara langsung kondisi perekonomian terkini kepada pelaku pasar saham. Bambang menyebutkan ekonomi hanya mampu tumbuh 5,4% tahun ini, lebih rendah dari target yang dipatok 5,7%.

Analis Oso Securities Supriyadi menilai pernyataan tersebut justru dapat menenangkan pasar. Artinya proyeksi yang disampaikan sesuai dengan realita di lapangan, bahwa ekonomi memang tengah lesu dan sulit untuk tumbuh terlalu tinggi.

"Kalau nanti 5,4%, itu justru nggak masalah. Karena nanti ketika realisasi misalnya dicapai lebih rendah sedikit dari itu, misalnya 5,3% atau 5,2% artinya proyeksinya rasional. Itu yang dibutuhkan pasar," ujarnya kepada detikFinance, Kamis (14/5/2015)

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Tapi menjadi berbeda ketika pemerintah optimis 5,7% tapi realisasinya itu 5,2%. Itu deviasinya jauh. Pelaku pasar kan yang penting bagaimana rencana dan aktualisasi itu harus sejalan dan rasional. Sehingga investor lebih tenang dalam meletakkan uangnya," jelas Supriyadi.

Optimisme pelaku pasar, kata Supriyadi juga terbantu dengan program yang dijalankan oleh pemerintah. Karena terbukti belanja pemerintah pada pekan pertama Mei 2015 sudah terserap 25%. Padahal pada kuartal I hanya 18% yang menyebabkan ekonomi hanya tumbuh 4,71%.

"Kemaren juga disampaikan budget kuartal I kan cuma 18%. Tapi setelah masuk periode kuartal II, hanya sebulan lebih sedikit, serapan sudah bertambah 7%. Artinya masalah belanja yang dipersoalkan kemaren bisa teratasi oleh pemerintah," terangnya.

Supriyadi menuturkan, ada beberapa poin yang menjadi pertanyaan oleh pelaku pasar dalam diskusi yang berlangsung semalam. Di antaranya adalah kebijakan terkait pelarangan ekspor tambang mentah oleh pemerintah. Apa dimungkinkan ada pelonggaran untuk mendorong ekspor.

"Pemerintah mengatakan tetap menjalankan kebijakan tersebut. Namun mendorong pembangunan smelter lebih cepat. Karena dengan begitu bisa mendorong hilirisasi dan nilai tambah untuk produk sebelum diekspor. Itu yang juga bagian dari sektor manufaktur pun bisa tumbuh sesuai rencana pemerintah," paparnya.

Kemudian adalah upaya pemerintah dalam memperbesar pasar domestik, bila nantinya banyak dana asing yang kemudian masuk ke dalam negeri. Selanjutnya juga ditanyakan terkait dengan langkah pemerintah mensiasati keluarnya dana asing akibat periode pembayaran dividen.

"Itu kan ada kuartal II itu ada dana keluar bayar deviden. Dari sana pemerintah mengatakan akan memberikan insentif pajak untuk deviden yang diinvestasikan kembali. Itu langkah strategis, karena gimana caranya transaksi berjalan agar tidak bermasalah. Karena memang secara historis selalu ada peningkatan defisit di kuartal II dan III," tukasnya.

Analis saham Samuel Securities Alfatih menambahkan bahwa pasar sangat membutuhkan suntikan optimisme dari pemerintah. Adalah dengan cara merealisasikan rencana yang sudah digembor-gemborkan sejak awal tahun.

Untuk pertumbuhan sebesar 5,4% sebenarnya juga tidak terlalu jauh dari espektasi berbagai pihak. Termasuk juga Bank Indonesia (BI) yang juga mengakui ekonomi diproyeksikan hanya tumbuh pada rentang 5,4-5,8%.

"Kita apresiasi usaha menteri untuk share permasalahan yang ada. Meski hal ini sudah banyak dibahas. Pasar kan butuh suntikan optimisme melalui kejelasan rencana pemerintah dalam menghadapi masalah yang sedang dihadapi," kata Alfatih.

(mkl/ang)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads