Menurut President Director PT Golden Energy Mines Tbk (GEMS) Fuganto Widjaja, ada alasan kuat Grup Sinarmas ingin menguasai mayoritas saham tambang batu bara tersebut.
Ia mengatakan, aksi korporasi tersebut dilakukan untuk memperkuat bisnis perseroan di bidang infrastruktur seperti power plant alias pembangkit listrik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Melalui anak usaha, DSSP Power, Sinarmas tengah menggarap proyek pembangkit listrik dengan kapasitas total 400 megawatt (MW), salah satunya 2x50 MW di Kendari, Sulawesi Tenggara. Hal Ini dilakukan sebagai upaya mendukung rencana pemerintah membangun proyek listrik 35.000 MW.
"Program pemerintah 35.000 MW, Sinarmas salah satu pendukung serius, kita percaya Indonesia butuh investasi. Untuk mendukung itu kita butuh pasokan batu bara, Berau Coal kan besar jadi kita merasa sayang kalau kita tidak mencoba untuk amankan aset ini, saya rasa kalau batu bara ini bisa dukung listrik di Indonesia," jelas dia saat bincang bersama media di Sinarmas Land Plaza, Jakarta, Selasa (19/5/2015).
Untuk pembangunan proyek tersebut, perseroan telah menganggarkan dana sebesar US$ 700 juta, yang diperoleh dari perbankan asal China dan internal kas perseroan.
"Porsinya 70 pinjaman perbankan, sama sisanya equity (modal)," tandasnya.
Seperti diketahui, melalui Asia Coal Energy Ventures Ltd (ACE), perusahaan investasi yang dikendalikan pemegang saham minoritas ARM yaitu Argyle Street Management Ltd, Grup Sinarmas memberikan tawaran harga senilai US$ 150 juta (Rp 2 triliun) untuk menguasai saham perusahaan yang dulu bernama Bumi PLC tersebut.
Tawaran ini lebih tinggi dibanding yang diajukan Nat, senilai US$ 100 juta (Rp 1,3 triliun). Fu mengatakan, sudah mendapatkan 'deal' dengan Raiffeisen Bank International (RBI) untuk mengambil alih kepemilikan sahamnya sebesar 23,8% di ARMS.
"Kita sudah menawarkan, high price, reasonable offer, kita sudah deal dengan RBI untuk ambil alih," kata dia
Pria yang akrab disapa Fu ini menyebutkan, saat ini Argyle Street Management Ltd punya 4,7% saham di ARMS, Samin Tan sekitar 20%, dan Hari Tanoesoedibjo lebih dari 1%.
Jika proses akuisisi berhasil, maka Grup Sinarmas akan punya kepemilikan saham di ARMS sebesar kurang lebih 52%.
Proses Bidding Offer (BO) ini akan dilakukan pada 4 Juni 2015. Setelah proses itu selesai, maka akan dilanjutkan voting untuk meminta dukungan kepada pemegang saham atas akuisisi tersebut. Proses voting untuk menentukan persetujuan akuisisi dilakukan paling lama 60 hari setelah BO.
Fu menjelaskan, akuisisi ARMS oleh Sinarmas ini tidak hanya kepemilikan sahamnya saja, tapi sekaligus restrukturisasi utang senilai total US$ 950 juta yang sebesar US$ 450 juta akan jatuh tempo pada Juli 2015, sementara sisanya akan jatuh tempo pada 2017.
(ang/dnl)











































