Laba Kimia Farma Naik 70 % 2004
Kamis, 17 Feb 2005 14:47 WIB
Jakarta - PT Kimia Farma mencatat laba bersih yang belum diaudit tahun 2004 sebesar Rp 74 miliar atau naik 70 persen dibandingkan tahun 2003 yang sebesar Rp 42 miliar. Sedangkan penjualan tercatat Rp 1,95 triliun, naik dibandingkan tahun 2003 yang sebesar Rp 1,8 triliun. "Kita telah melakukan efisiensi dan peningkatn produktivitas sehingga laba bersih yang dihasilkan kenaikannya significan di tahun 2004," kata Dirut Kimia Farma Gunawan Pranoto.Gunawan menjelaskan, saat ini Kimia Farma memiliki jaringan apotik 324 buah dimana pada tahun ini jumlahnya akan ditambah menjadi 25 apotik. Biaya investasi yang dikeluarkan atau capital expenditure (capex) pada tahun 2005 sebesar Rp 70 miliar diantaranya digunakan untuk pembangunan apotik dan modal kerja. Ditambahkan, Kimia Farma saat ini sedang mengembangkan bisnis one stop service berupa pembukaan klinik dan laboratorium klinik yang dijadikan satu dengan apotik. Pada tahun 2005 akan dibuka 20-an unit klinik dan laboratorium klinik, dimana ke depan semua jaringan klinik dan laboratorium itu bisa online. Saat ini Kimia Farma sudah memiliki 15 klinik dan laboratorium klinik.Dari penjualan produk obat, Kimia Farma mendapat kontribusi sebesar 25 persen. Untuk laboratorium klinik yang telah dibuka diharapkan sudah bisa menghasilkan pendapatan sebesar Rp 25-30 miliar.Target Laba IndofarmaSementara Dirut Indofarma Dani Pratomo mengatakan, perseroan menargetkan laba bersih tahun 2005 sebesar Rp 20 miliar dengan pertumbuhan penjualan 25 persen dibandingkan tahun 2004. Sedangkan Capex yang dikeluarkan sebesar Rp 30 miliar digunakan untuk renovasi fasilitas produksi. Namun Dani belum bersedia mengungkapkan kinerja 2004. Yang jelas, tambah dia, tahun 2004 Indofarma telah mencatat keuntungan. "Target kita tahun 2004 memulihkan kesehatan perusahaan. Tahun 2005 stabilisasi dan tahun 2006 take off," kata Dani.Ia juga menjelaskan, divestasi anak perusahaannya yang bergerak dalam distribusi PT Indofarma Global Medika (IGM) sampai saat ini belum selesai. Pasalnya perseroan masih menjajaki beberapa kesapakatan dengan beberapa investor yang akan membeli karena Indofarma menginginkan adanya sinergi dari penjualan tersebut. "Kita masih ingin IGM menjual produk Indofarma walaupun nanti kepemilikan kita sedikit," ujarnya. Diharapkan pada tahun 2005 ini transaksi divestasi IGM sudah bisa final. "Kita memang tidak mau buru-buru karena ini bukan hanya menyangkut harga tapi tahun 2005 diharapkan selesai karena tahun berikutnya kita tidak mau dibebani IGM yang tidak efisien," demikian Dani Pratomo.
(qom/)











































