Direktur TBIG Helmy Yusman menyebutkan, utang yang akan di-refinancing sebesar US$ 650 juta (Rp 8,5 triliun). Dananya diambil dari penerbitan global bond yang nilainya secara total mencapai US$ 500 juta. Dari total US$ 500 juta tersebut, perseroan akan mengalokasikan sebesar US$ 285 juta untuk bayar utang yang akan jatuh tempo pada November 2015.
Artinya, kemungkinan sebelum November 2015, perseroan akan menerbitkan global bond tersebut.
"US$ 350 sudah dibayar bulan Februari lalu, mau refinancing pinjaman bank yang US$ 650 juta dengan obligasi, lebih pilih obligasi karena bunganya fix dan tenornya lebih panjang," jelas dia usai Rapat Umum Pemegang Saham Tahunan (RUPST) yang digelar perseroan di Hotel Le Meridien, Jakarta, Rabu (27/5/2015).
Selain itu, perseroan juga sepakat untuk melakukan pembelian kembali saham perseroan alias buyback.
Helmy mengatakan, RUPST telah menyetujui rencana pembelian kembali saham perseroan sebanyak-banyaknya sekitar 5% dari jumlah modal yang ditempatkan dan disetor atau 236 juta lembar saham yang tercatat di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Sesuai dengan peraturan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pembelian kembali saham dapat dilakukan melalui bursa efek dan persetujuan ini berlaku untuk jangka waktu 18 bulan.
Besarnya dana yang disisihkan dalam rangka pembelian kembali saham adalah sebanyak-banyaknya sebesar Rp 2,2 triliun termasuk biaya transaksi, biaya pedagang perantara dan biaya lainnya sehubungan dengan transaksi pembelian kembali saham perseroan.
"Buyback sudah disetujui di RUPST tadi," katanya.
(Dewi Rachmat Kusuma/Angga Aliya)











































