Sepanjang tahun 2014, IHSG mencatatkan kinerja positif. IHSG naik 21,15% dari 4.274,177 di akhir 2013 menjadi 5.178,873 pada 29 Desember 2014. Tahun ini, IHSG bukan hanya melambat tapi juga diperkirakan akan mencatatkan kinerja negatif.
"Tahun ini tidak sebagus tahun lalu. Malah, akan minus, akan lebih negatif," kata Head of Equity Market Mandiri Sekuritas John Rachmat saat Paparan Economic Outlook 2015, di Plaza Mandiri, Jakarta, Kamis (28/5/2015).
John menjelaskan, banyak faktor atau sentimen negatif yang menyelimuti gerak indeks saham saat ini. Performa emiten yang menurun, bahkan tak sedikit yang mencatatkan kinerja minus menjadi salah satu penyebabnya.
Ditambah lagi, isu reshuffle kabinet turut menambah sentimen negatif di pasar modal. Reshuffle kabinet dinilai penuh potensi risiko.
Hal dominan lain adalah soal faktor global, meskipun bank sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve (The Fed) diperkirakan tidak akan menaikkan suku bunganya di tahun ini, tapi tetap akan ada ketakutan gelombang Fed fund rate dan akan ada dampak besar ke nilai tukar rupiah.
Diproyeksikan dolar AS bisa tembus level di atas Rp 13.400. Hal ini mendorong dana-dana asing akan 'kabur' ke negeri adidaya AS.
Di samping itu, pertumbuhan ekonomi Indonesia yang masih melambat hanya 4,7% di kuartal I-2015, diperkirakan masih akan terus berlanjut jika pemerintah tidak gencar menggenjot dana belanjanya ke sektor infrastruktur.
Sepanjang tahun ini, pertumbuhan ekonomi Indonesia diperkirakan akan berada di level 5,3% atau lebih pesimis dibanding asumsi pemerintah di angka 5,4%.
Pertumbuhan ekonomi tersebut akan tercapai dengan catatan konsumsi tumbuh 5,2%, belanja pemerintah naik 5%, investasi dari 4,12% naik ke 6,2%, ekspor impor masing-masing 2,4% dan 1,6%.
"Kalau ada satu saja yang berubah, itu pertumbuhan ekonomi meleset hanya 4,9% tahun ini," katanya.
Tahun lalu, kata John, Indeks masih naik 22% meskipun laba perusahaan jelek karena saat itu ada harapan dari pemilihan presiden baru. Transformatif dan menjadi lebih baik menjadi harapan semua orang.
"Tapi sekarang harapan itu semakin dipertanyakan, apalagi ada soal reshuffle kabinet, akan terjadi koreksi di saham," sebutnya.
Saat ini, John menambahkan, dari 127 perusahaan yang tercatat likuid atau sedikitnya sahamnya ditransaksikan rata-rata US$ 1 juta dalam sehari, lebih banyak saham yang mencatatkan kinerja minus.
Di tahun 2013 dengan kondisi ekonomi yang juga kurang kondusif, dari 110 saham yang likuid, yang berhasil turun atau minus 10% hanya 12 saham, lainnya minus 15-50%.
"Kabinet reshuffle ini salah satu katalis negatif. Risiko kenaikan Fed fund rate. Jadi tahun ini Indeks akan minus," kata John.
(Dewi Rachmat Kusuma/Angga Aliya)











































