"Kamu lihat, hari ini mata uang Korea, Malaysia, semua lebih dalam dari kita tekanannya. Tapi ini semua reaksi dari perkembangan risk on-risk off (risiko) di luar negeri. Jadi saya melihat bahwa kita memang harus menghadapi ini dengan baik dan waspada," kata Gubernur Bank Indonesia (BI), Agus Martowardojo, di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (8/6/2015).
Agus Marto mengatakan, akan ada perang mata uang (currency war) dalam 3 tahun ke depan. Ini terjadi, bila bank sentral Amerika Serikat (AS) yaitu Federal Reserve (The Fed) menaikkan suku bunga acuannya.
"Seandainya program peningkatan bunga di Amerika akan berjalan secara berkala, itu pasti akan berdampak pada mata uang negara-negara lain, dan mata uang antara satu negara dan negara lain kan akan menjaga posisi kompetitif mata uangnya," jelas Agus Marto.
Sekarang, lanjut Agus Marto, memang tengah terjadi periode super dolar. Indonesia harus mewaspadai kondisi yang terjadi tersebut. BI sendiri, akan menjaga stabilitas pergerakan rupiah sehingga pergerakannya tidak liar.
Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar AS yang dijaga adalah maksimal di kisaran 10%.
"Tapi kami tidak tetapkan harus lebih rendah atau lebih tinggi dari 10%. Tapi volatilitas sekarang ada di kisaran 10%," jelas Agus Marto.
(dnl/hen)










































