"Kami menurunkan rating Indonesia ke underweight dari neutral, dan target IHSG akhir tahun 2015 ke 4.500 dari 5.450," kata Kepala Riset Mandiri Sekuritas, John D. Rahmat, dalam risetnya, Selasa (9/6/2015).
John memberikan tiga alasan atas proyeksi IHSG yang diturunkan tersebut. Pertama, ekonomi Indonesia yang melambat lebih dalam dari yang kami perkirakan.
Kedua, kinerja perusahaan tercatat alias emiten yang tidak sesuai dengan valuasi saat ini, sedangkan yang ketiga adalah faktor global yang membawa risiko penurunan tambahan.
Saat ini masih banyak ekonom yang mengharapkan ekonomi Indonesia rebound di semester II-2015, salah satunya berkat besarnya pengeluaran pemerintah dan proyek infrastruktur proyek yang akan dimulai.
"Namun, baik negara maupun pendanaan sektor swasta untuk pembangunan infrastruktur cenderung lebih rendah dari harapan," kata John dalam risetnya, Selasa (9/6/2015),
Sementara itu, kata dia, daya beli konsumen juga kemungkinan tertekan oleh kenaikan harga minyak, menurunnya pendapatan di sektor perkebunan dan pertambangan serta inflasi yang lebih tinggi.
"Akan sulit bagi perekonomian untuk tumbuh sebesar 5% atau lebih jika kedua faktor ini mengecewakan dalam pandangan kami," jelasnya.
Pada akhirnya, kata John, tingkat valuasi saat ini tidak akan tumbuh berkelanjutan. Sepanjang 2014, banyak perusahaan yang membukukan pendapatan lebih rendah dari target.
Perusahaan-perusahaan ini mengalami kinerja yang sama buruknya di tiga bulan pertama 2015. "Dengan risiko lebih besar yang akan datang," ujarnya.
IHSG hari ini mencapai titik terendah di 2015, yaitu di 4.887,489. IHSG masih terus terkoreksi dan hingga pukul 10.52 waktu JATS berada di level 4.890,591 setelah turun 124,401 poin (2,48%).
(ang/dnl)











































