Proyek JEDI ini bertujuan mengeruk dan membersihkan sungai-sungai di Jakarta. Pinjaman yang didapat Pemprov DKI sebanyak Rp 1,2 triliun pada 2012 lalu, saat dolar AS masih berada di kisaran Rp 12.000.
Hari ini dolar AS sudah melejit hingga kisaran Rp 13.400. Sehingga ada selisih cukup besar dari nilai pinjaman yang disepakati. Lalu mau dipakai apa kelebihan pinjaman tersebut?
"Mau diapain? Saya bilang bisa beresin tanggul saja sekalian. Tanggul total sampai Rp 3 triliun lebih. Tapi kalau (Pemerintah) pusat (mau membantu) beresin nambah (bisa) cepat gitu loh. Atau dibuat rumah susun," ujar Ahok saat dikonfirmasi di Balai Kota, Jalan Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Selasa (9/6/2015).
Namun Ahok belum dapat memastikan penggunaan dana lebih tersebut. Sebab, mantan Bupati Belitung Timur itu harus berkonsultasi terlebih dahulu dengan Bappenas.
"Ya kan kita pinjam dolar nih. Kontraktor (kita) kan (bayarnya) rupiah. Nah, tiba-tiba dolar jadi Rp 13.400 sekarang. Ya kelebihan rupiah dong gitu. Bayarnya (bunga) yang bengek kita," sambungnya.
Meski demikian, Ahok merasa lebih baik kelebihan pinjaman dari World Bank itu digunakan untuk membenahi tanggul di Jakarta. Sebab, menurut dia tidak mudah merelokasi atau memindahkan warga yang tinggal puluhan tahun di bantaran kali ke rusun.
Sedangkan, teori World Bank bila hendak membongkar seribu rusun maka Pemprov juga harus bisa menyediakan seribu bangunan rusun lainnya. Menurut Ahok, teori ini tidak sejalan dan tidak bisa diberlakukan di Jakarta.
"Agak lambat karena mindahin banyak rumah itu (nggak gampang). Bank Dunia punya konsep kalau mau bongkar rusun seribu, siapin rusun seribu. Teori ini nggak jalan. Kan banyak penyewa nggak bisa dong. Yang penting kita siapin rusun," tutup Ahok.
Seperti diketahui, World Bank mengalokasikan dana sebesar Rp 1,2 triliun dalam rangka program JEDI untuk mengeruk sungai-sungai di ibu kota.
Proyek JEDI ini digagas pada masa Fauzi Bowo untuk menanggulangi banjir. Proyek akan dilakukan secara bertahap dan dibagi dalam tujuh paket.
Tiga paket dikerjakan Pemprov DKI Jakarta, dua oleh Balai Besar Wilayah Sungai Ciliwung Cisadane, dan dua lainnya oleh Cipta Karya.
Proyek JEDI ini meliputi 57 kelurahan di 4 wilayah DKI Jakarta, yakni di Jakarta Barat, Jakarta Utara, Jakarta Pusat, dan Jakarta Timur. Pengajuan pinjaman ke Bank Dunia sebenarnya sudah dilakukan sejak tahun 2008 tapi baru terealisasi 2012.
(aws/ang)











































