Sahamnya melonjak 44% pada perdagangan perdananya hari ini di pasar saham Negeri Tirai Bambu, dari harga 3,39 yuan pada saat penawaran umum menjadi 4,88 yuan.
Saham CNNPC ini mampu melonjak tinggi di tengah koreksi Indeks Komposit Shanghai yang terjadi pagi tadi.
"Saham-saham berkapitalisasi besar memang sedang diburu investor, apalagi ini kan perusaahan yang sudah mapan," kata Uwe Parpart, Direktur Pelaksana sekaligus Kepala Riset Reorient Financial kepada CNBC, Rabu (10/6/2015).
Dana yang diraup CNNPC dari Initial Public Offering (IPO) ini termasuk yang terbesar, menyalip jumlah dana hasil IPO Power Construction Corporation of China pada 2011 lalu.
Dana puluhan triliun rupiah itu akan dipakai untuk membangun empat pembangkit listrik tenaga nuklir (PLTN). Meski harganya sudah naik tinggi, saham CNNPC masih layak dikoleksi investor.
"Saya rekomendasikan untuk beli tanpa ragu-ragu. Perusahan sudah mengamankan kontrak yang sejalan dengan kebijakan pemerintah China," katanya.
Pemerintah China memang sedang agresif membangun PLTN yang akan dikerjakan selama beberapa tahun mendatang. Total daya PLTN dari saat ini 21 gigawatt (GW) akan digenjot jadi 58 GW di 2020.
Melihat rencana tersebut, ia berharap saham CNNPC bisa ikut tumbuh tinggi di tengah situasi pasar yang masih bergejolak.
(ang/dnl)











































