Direktur PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) Alex Safrudin mengatakan, koreksi yang terjadi di pasar seharusnya dimanfaatkan investor domestik memborong saham yang dilepas investor asing.
"Kalau yang namanya investasi itu kita harus lihat dari history, bukan psikologi. Kalau kita lihatnya investasi jangka panjang justru ini saat-saat yang bagus buat beli. Terutama yang lokal mana saham-saham yang potensial di masa depan untuk kita beli. Lagi diskon ini semua," ungkap Alex ditemui detikFinance di Gedung Bursa Efek Indonesia (BEI), Senin (29/6/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini kan pasti naik lagi. Sekarang orang takutnya saya beli sekarang jangan-jangan nanti besok turun lagi," ujarnya.
IHSG yang anjlok hari ini, sambung Alex, diakuinya karena efek domino krisis Yunani. Namun hal itu bukan sinyal bahwa kondisi pasar modal Indonesia yang sedang negatif.
"Kenapa kita paling sering naik turun kalau krisis global, karena investor asing kan yang banyak. Prosentase asing kan sekitar 60%, ini kan krisis luar makanya yang cabut itu investor luar," jelasnya.
Kondisi ini, kata Alex, bisa dilihat dari banyaknya perusahaan yang mencatatkan kinerja baik namun sahamnya ikut merosot karena krisis global.
"Tren turun memang, tapi lihat turun karena apa itu sifatnya sementara. Market cap besar juga nggak terpengaruh. Kayak Jasa Marga mau harga sahamnya turun tapi pendapatannya nggak pernah turun, atau Unilever, jangan lupa asing keluar jangan langsung ikut-ikut jual," paparnya.
Hal yang sama juga diungkapkan Direktur Utama BEI Tito Sulistio. Menurutnya, anjloknya IHSG hari ini hanya karena efek psikologis pasar yang sifatnya hanya sementara saja.
"Itu ada unsur yang unpredictable, buat saya hanya efek psikologi, yang dampaknya lebih mengerikan daripada riil-nya. Dan itu belum terjadi di Indonesia, saham kita masih aman, masih banyak perusahaan-perusahaan bagus. Saya melihat dampak psikologis saja, kalau makro saya nggak lihat," kata Tito.
(ang/ang)











































