Menguatnya dolar AS itu tentu menekan nilai tukar rupiah. Bahkan diprediksi dolar AS bisa sampai tembus Rp 14.000 jika Yunani bangkrut gara-gara tak bisa bayar utang.
Senior Analis Bahana Securities Harry Shu mengatakan, pemerintah dan Bank Indonesia (BI) jangan diam saja dan harus segera melakukan antisipasi atas krisis utang Yunani ini.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
BI sebagai otoritas moneter diminta untuk menaikkan tingkat suku bunga acuannya atau BI rate untuk menghadang dana-dana asing keluar Indonesia. Dengan tingkat suku bunga acuan yang lebih menarik, diharapkan investor akan tetap menyimpan uangnya di dalam negeri.
Sementara pemerintah bisa menggenjot ekspor manufaktur untuk menjadi salah satu cara menghalau terjadinya tekanan yang begitu besar dari ancaman krisis Yunani dan normalisasi kebijakan The Fed ini.
Ekspor komoditas yang saat ini sedang lesu bisa digantikan dengan manufaktur seperti garmen, tekstil, furniture yang lebih punya nilai tambah.
"BI perlu menaikkan BI Rate. Ekspor digenjot supaya current account deficit tidak terlalu parah. Harusnya Indonesia sudah siap menghadapi situasi seperti ini," kata Harry kepada detikFinance, Selasa (30/6/2015).
Hari ini seharusnya Yunani membayar utang 1,54 miliar euro (Rp 22 triliun) kepada International Monetary Fund (IMF), tapi tidak punya uang.
Yunani bersikeras menolak pinjaman atau utang baru yang ditawarkan para kreditur yang disebut Troika, yaitu Uni Eropa, European Central Bank (ECB/Bank Sentral Eropa), dan IMF.
Troika bersedia memberikan bantuan hingga 7,2 miliar euro (Rp 108 triliun) untuk menutupi utang tersebut sampai akhir tahun ini dengan syarat tertentu, di antaranya Yunani diminta memangkas anggaran, terutama dana pensiun PNS, hingga menaikkan pajak.
(ang/dnl)











































