Perlambatan ini juga membuat kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) loyo, dan berdampak pada kinerja reksa dana saham. Hingga enam bulan pertama tahun ini, kinerja reksa dana saham tercatat minus 9%.
Tak hanya reksa dana saham, reksa dana campuran juga tercatat minus 4%.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Enam bulan pertama reksa dana saham minus 9%, reksa dana campuran minus 4%," sebut dia.
Rudiyanto mengatakan, kinerja negatif tersebut bukan lantaran pengaruh kondisi global karena krisis Yunani. Meski demikian, normalisasi kebijakan bank sentral Amerika Serikat (AS) The Federal Reserve (The Fed) yang akan menaikkan suku bunganya memang berpengaruh.
Namun, pendorongnya utamanya lebih kepada realisasi belanja pemerintah yang masih rendah. Investor sangat menaruh harapan besar terhadap pemerintah. Selain itu, kinerja emiten juga dinilai kurang memuaskan.
"Kinerja negatif, tapi negatifnya bukan karena Yunani, tapi karena data makro ekonomi tidak bagus, kinerja perusahaan juga tidak mencapai ekspektasi," terang dia.
Rudiyanto yang juga Anggota Kompartemen Sosialisasi dan Edukasi Asosiasi Pengelola Reksa Dana Indonesia (APRDI) menyebutkan, ke depan kondisi perekonomian Indonesia akan lebih baik seiring penyerapan belanja pemerintah dan kinerja emiten yang lebih bagus.
"Kita punya harapan kondisi yang akan datang akan lebih baik, ekonomi naik turun, pertumbuhan ekonomi kita bukan negatif, tapi lambat," jelas dia.
(drk/dnl)











































