Sudah pantau pergerakan pasar saham China dalam beberapa hari terakhir ini? Kadang dibuka naik tinggi lalu ditutup anjlok, pernah juga sebaliknya. Pasar saham negeri tirai bambu ini sedang bergerak liar.
Perlukah investor asing, termasuk dari Indonesia, memantau pergerakan liar Bursa China? Banyak analis yang menyarankan ini perlu dipantau.
"Memang ada fluktuasi yang cukup lebar, tapi bukan berarti pasar saham China tidak layak jadi perhatian. Mereka sedang membuka diri, dan banyak kesempatan bisnis baru di sana," kata Steve Wang, Kepala Analis dari Reorient Research di Hong Kong, seperti dikutip CNN, Selasa (7/7/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pemerintah setempat akhirnya membuka kesempatan bagi investor asing mengambil bagian lebih banyak, salah satunya dengan bekerja sama dengan Bursa Saham Hong Kong.
Setelah dua pasar saham itu terkoneksi, perdagangannya semakin hari semakin ramai. Bahkan, Indeks Komposit Shanghai sempat melesat hingga 60% sejak awal tahun ini, dan Indeks Komposit Shenzen hingga 100% alias dua kali lipat.

Nah, sekarang pemerintahnya sedang berupaya supaya bursanya tidak jatuh terlalu cepat. Sebab, Indeks Komposit Shanghai sudah bergerak liar dan jatuh 27% dalam satu bulan terakhir.
"Rentang pergerakan hariannya sangat lebar, jadi risikonya buat investor sangat besar. Investor harus punya nyali sekuat baja," kata Wang.
Setelah kerja sama antara Bursa Shanghai dan Hong Kong dilakukan awal tahun ini, otoritas bursa setempat kini sedang mengkaji terkoneksinya Bursa Shenzen dengan Hong Kong.
Peresmian kerja sama baru ini akan dilakukan akhir 2015. Wang menilai akan banyak dana asing yang membanjiri Bursa Shenzen setelah dua pasar modal itu terkoneksi.
Transparansi menjadi masalah utama bagi investor asing. Bukannya, perusahaan China suka menutup-nutupi laporan keuangan, hanya saja laporannya itu disajikan dalam bahasa China.
Padahal, investor asing berharap laporan itu bisa dibuat dalam dua bahasa, satu lagi tentunya bahasa Inggris.
(ang/wal)











































