Krisis Yunani Bisa Seret Dolar AS ke Rp 13.800

Krisis Yunani Bisa Seret Dolar AS ke Rp 13.800

Dewi Rachmat Kusuma - detikFinance
Rabu, 08 Jul 2015 14:55 WIB
Krisis Yunani Bisa Seret Dolar AS ke Rp 13.800
Jakarta - Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sepertinya masih akan tertekan hingga sepanjang tahun ini. Berbagai sentimen negatif dari pasar global ikut menekan laju rupiah.

Krisis Yunani membuat mata uang euro tertekan sehingga mendorong dolar AS semakin perkasa yang imbasnya bisa membuat rupiah semakin terpuruk.

Sementara cadangan devisa Indonesia masih minim hanya US$ 108 miliar, 13% dari Produk Domestik Bruto (PDB).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sementara rasio cadangan devisa Filipina mencapai 29% dari PDB meskipun nilainya hanya US$ 80 miliar.

Cadangan devisa Malaysia tercatat US$ 111 miliar atau 33% dari PDB, dan Thailand US$ 148 miliar atau 40% dari PDB.

Kondisi rendahnya rasio cadangan devisa RI ini tidak bisa berkontribusi banyak untuk menangkal kuatnya dolar AS. Bank Indoensia (BI) tidak bisa melakukan intervensi lebih dalam ke pasar keuangan. Akibatnya, rupiah terus melemah. Jika tidak diantisipasi lebih agresif, tidak menutup kemungkinan posisi dolar AS akan berada di level Rp 13.800 di akhir tahun ini.

Demikian disampaikan Ekonom Universitas Indonesia (UI) yang juga Analis Asosiasi Analis Efek Indonesia (AAEI) Budi Frensidy saat acara edukasi bersama wartawan di Gedung BEI, Jakarta, Rabu (8/7/2015).

"Persentase cadangan devisa mestinya 30 persenan. Dari berbagai indikator, nilai tukar range Rp 13.000-13.800 di akhir tahun," katanya.

Dia menyebutkan, idealnya cadangan devisa itu mencapai 30% dari PDB. Paling tidak, bisa untuk memenuhi kebutuhan impor setahun.

"Kalau 30% ya paling tidak ada cadev Rp 200 miliar, paling tidak untuk setahun impor. Kenapa BI perlu intervensi? Karena Rp 13.500 sudah mengkhawatirkan," terang dia.

Budi mengungkapkan, sulit rasanya untuk bisa kembali membuat rupiah berada di level aman di bawah Rp 13.000 per dolar AS. Kondisi global cukup berpengaruh terhadap perekonomian Indonesia.

"Mata uang kita masuk mata uang lemah. Indikator memburuk, rasio cadangan devisa RI paling rendah, nilai tukar sekarang Rp 13.300, sulit kembali di bawah Rp13.000, pasar komoditas lagi nggak bagus, di Agustus 2011 dolar AS di Rp 8.500, itu saat harga komoditas tinggi," jelas dia.

Untuk membantu rupiah tidak terjerembab begitu dalam, Budi menyebutkan, berbagai hal perlu didorong salah satunya diperkuat dengan penerbitan global bond agar pasokan valas lebih banyak, namun risikonya rasio utang lebih tinggi.

"Diperkuat dengan emisi global bond, suplai diperkuat. FDI ditingkatkan, birokrasi dipangkas. Banyakin penerbitan surat utang valas untuk backup cadev kita tapi ada risiko neraca jasa dan rasio utang," kata Budi.

(drk/ang)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads