Anak usahanya itu tak bisa membayar utang setelah melewati batas waktu pembayaran 8 Juli lalu. Atas hal ini, Pengadilan Tinggi Singapura mengeluarkan moratorium kepada Berau hingga 4 Januari 2016 untuk bernegosasi dengan pemegang surat utangnya.
Pada 1 Juli lalu, Asia Coal Energy Ventures Limited (ACE) yang dimotori oleh Grup Sinarmas menawar untuk membeli seluruh kepemilikan saham Berau di Asia Resource Minerals (ARM). Jumlah saham ARM yang dimiliki Berau adalah 84,7%.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berau akan membayar sebagian utangnya melalui dana US$ 100 juta (Rp 1,3 triliun) yang didapat dari ACE diambah kas internal US$ 18,74 juta.
Utang jatuh tempo US$ 450 juta yang jatuh tempo 8 Juli dan US$ 500 juta di 13 Maret 2017 akan direstrukturisasi jadi surat utang baru yang jatuh tempo 31 Juli 2019 dan 31 Desember 2020. Bunga surat utang hasil restrukturisasi itu akan lebih rendah dari sebelumnya.
"Meski ada moratorium, para pemegang utang pasti masih akan menagih sampai adanya detil dari restrukturisasi utang," kata Brian Grieser, Vice President dan Analis Senior Moody's dalam siaran pers, Jumat (10/7/2015).
Menurutnya, jika restrukturisasi utang berjalan lancar maka akan memberi sentimen positif terhadap kelangsungan bisnis Berau, apalagi dengan bunga yang lebih kecil.
(ang/dnl)











































