Saham Tambang Bakrie Nyaris Gocap, Masih Bisa Naik Lagi?

Saham Tambang Bakrie Nyaris Gocap, Masih Bisa Naik Lagi?

Dewi Rachmat Kusuma - detikFinance
Rabu, 22 Jul 2015 18:35 WIB
Saham Tambang Bakrie Nyaris Gocap, Masih Bisa Naik Lagi?
Jakarta - Saham tambang Grup Bakrie, PT Bumi Resources Tbk (BUMI) nyaris menyentuh harga terendah di Bursa Efek Indonesia (BEI). Hingga penutupan perdagangan hari ini, saham BUMI berada di level Rp 52 per saham.

Apa penyebab saham Grup Bakrie berguguran? Mungkinkah bisa naik lagi?

Analis NH Koorindo Reza Priyambada mengungkapkan, banyak faktor yang mempengaruhi naik-turunnya harga saham. Selain kinerja dan fundamental yang baik, faktor sentimen juga sangat mempengaruhi pergerakan harga saham sebuah perusahaan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Meskipun secara fundamental perusahaan tambang Grup Bakrie ini masih bagus, namun kinerja dan tata kelola perusahaan masih menyisakan sentimen negatif di mata investor.

"Secara fundamental masih bagus, cadangan batu bara ada, tapi masyarakat menghindari," terang dia kepada detikFinance, Rabu (22/7/2015).

Selain itu, kinerja perusahaan yang sedang turun ditambah lesunya harga komoditas juga menjadi faktor negatif yang tidak bisa dihindari.

"Kinerja cenderung turun, ditambah kondisi pasar kurang bagus. Kinerja nggak kunjung baik sehingga persepsi di masyarakat mereka salah kelola," ucap Reza.

Selain itu, Reza menjelaskan, harga komoditas saat ini tengah melemah. Hal ini membuat investor lebih mencari saham-saham yang memberikan imbal hasil atau return lebih tinggi.

"Orang kan melihat mana yang bisa memberi return bagus, nah salah satunya melihat perputaran likuiditas perusahaan yang baik, potensi saham yang juga masih baik," katanya.

Reza menyebutkan, hingga semester pertama tahun depan, harga komoditas seperti batu bara belum akan membaik sehingga kinerja saham-saham perusahaan tambang juga masih akan tertekan.

"Semester pertama tahun depan belum melihat adanya peningkatan harga komoditas, baik dari sisi demand maupun sentimen yang menggerakkan pasar komoditas," kata dia.

(drk/ang)

Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini
Hide Ads