IHSG Tembus Level 1.100
Rabu, 23 Feb 2005 12:23 WIB
Jakarta - Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada Sesi I perdagangan Rabu (23/2/2004) akhirnya menembus level psikologis baru 1.100 yakni tepatnya 1102,151 naik 2,238 poin. Indeks LQ 45 naik 0,327 poin ke level 239,404.Perdagangan di pasar reguler mencatat transaksi sebanyak 16.368 kali pada volume 2.366.827 lot saham senilai Rp 814,729 miliar. Sebanyak 80 saham naik, 49 saham turun dan 236 saham stagnan.Namun pada sesi pagi Rupiah justru melemah 10 poin ke level Rp 9.240 per dolar AS, dibandingkan pembukaannya di level Rp 9.230 per dolar AS. Menurut Fendi Susianto, equity wealth management BNI, kenaikan IHSG ke level 1.100 memang sudah ditunggu-tunggu oleh investor. Dan pencapaian level itu semakin memperkuat keyakinan bahwa indeks bakal menembus level 1.200 pada akhir tahun. Fendi menjelaskan, kenaikan itu merupakan akumulasi banyaknya sentimen positif di pasar terutama ditingkatnya peringkat utang Indonesia oleh Fitch yang diikuti oleh membaiknya peringkat beberapa perusahaan oleh Moody's. Selain itu juga keluarnya Indonesia sudah dikeluarkan dari daftar negara yang tidak kooperatif dalam hal tindak pidana pencucian uang dari FATF atau disebut (Non cooperatif coutries and teritories on money laundering). Faktor ini menurut Fendi membuat investor asing terus percaya untuk masuk ke Indonesia. Selain itu juga ada sentimen positif dari laporan keuangan emiten, keluarnya laporan BPS soal PDB Indonesia yang diluar perkiraan investor serta lelang surat utang negara. Namun menurutnya investor mencermati dampak kenaikan harga BBM oleh pemerintah. Kenaikan IHSG ke level 1.100 ini menurut Fendi juga berdampak pada saham-saham lapis kedua yang turut menjadi incaran investor lokal dan asing. Pasalnya, saham-saham unggulan dinilai sudah overbought sehingga saham lapis kedua yagn memiliki fundamental yang bagus juga mulai dilirik. Namun demikian menguatnya saham lapis kedua akan meningkatkan volatilitas perdagangan saham di BEJ sehingga tidak tertutup kemungkinan aksi ambil untung akan terus membayangi perdagangan saham. Sementara saham-saham pertambangan, perbankan, agrikultur dan telekomunikasi tetap menjadi motor pergerakan indeks. Sebelumnya Menteri Keuangan Jusuf Anwar telah menyatakan optimismenya bahwa IHSG bisa menembus level 1.100 dalam waktu dekat ini. Keyakinan Menkeu itu didasari pada tumbuhnya kepercayaan dunia internasional terhadap Indonesia."Rating kita naik. Kita juga baru dikeluarkan dari NCCT. Coba lihat bursa sudah 1080-an. Mudah-mudahan dalam waktu sebentar bisa 1100. Itu angan-angan yang tidak mustahil. Itu menandakan adanya market confindent," ujar Menkeu pada Jumat (18/2/2005) pekan lalu. Namun sayangnya kinerja yang baik di lantai bursa itu tidak diikuti oleh menguatnya nilai tukar. Hingga Februari ini, nilai tukar Rupiah belum juga menunjukkan tanda-tanda penguatan sesuai dengan target APBN Rp 8.900 per dolar AS. Rupiah terus bertengger diatas level Rp 9.000 per dolar AS, bahkan beberapa saat yang lalu sempat mencapai level tertingginya Rp 9.300 per dolar AS. Sentimen positif dari dalam negeri tidak memberi dampak yang significan terhadap pergerakan Rupiah. Para pialang valas lebih banyak memanfaatkan isu global seperti menguatnya posisi dolar AS terkait kenaikan suku bunga oleh The Fed. Berdasarkan data dari BI, nilai tukar rupiah selama Januari 2005 rata-rata Rp 9.201 per dolar AS atau menguat 0,36 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
(qom/)











































