Perusahaan Sawit Grup Bakrie Rugi Rp 177 Miliar dalam 6 Bulan

Perusahaan Sawit Grup Bakrie Rugi Rp 177 Miliar dalam 6 Bulan

Dewi Rachmat Kusuma - detikFinance
Senin, 03 Agu 2015 09:48 WIB
Perusahaan Sawit Grup Bakrie Rugi Rp 177 Miliar dalam 6 Bulan
Jakarta -

PT Bakrie Sumatera Plantations Tbk (UNSP) mencatatkan rugi bersih sebesar Rp 177,72 miliar di semester I-2015.

Padahal, perusahaan perkebunan sawit milik grup Bakrie tersebut masih mencatatkan keuntungan sebesar Rp 74,09 miliar di semester I-2014.

Meskipun demikian, Bakrie Sumatera masih mencatatkan laba per saham sebesar Rp 12,95 di semester I-2015, lebih tinggi dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya Rp 5,40 per saham.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dikutip dari keterbukaan informasi perseroan kepada Bursa Efek Indoensia (BEI), penjualan netto UNSP turun dari Rp 1,367 triliun menjadi Rp 1,079 triliun di semester I-2015.

Manajemen UNSP optimis, kinerja Perseroan akan terus membaik pada tahun ini. Optimisme ini didukung oleh upaya-upaya peningkatan produktivitas yang terus dilakukan Perseroan melalui serangkaian program revitalisasi, seperti perawatan kebun dan penggunaan bibit unggul.

β€œApalagi, berdasarkan siklus, produksi sawit biasanya mulai meningkat pada semester kedua dan mencapai puncaknya di kuartal terakhir setiap tahun. Tahun ini kami optimis tumbuh jika dibanding tahun 2014,” kata Direktur Investor Relations UNSP, Andi W. Setianto, dalam siaran pers Senin, (3/8/2015),

Beban pokok penjualan turun dari Rp 974,484 miliar ke Rp 822,192 miliar di semester I-2015. Sehingga laba bruto tercatat turun dari Rp 392,707 miliar menjadi Rp 257,492 miliar di semester I-2015.

Beban penjualan tercatat turun menjadi Rp 22,835 miliar di semester I-2015 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 23,527 miliar.

Beban umum dan administrasi tercatat naik menjadi Rp 198,248 miliar di semester I-2015 dari periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 168,584 miliar.

Perseroan menanggung rugi selisih kurs di semester I-2015 sebesar Rp 591,491 miliar. Padahal, di periode yang sama tahun sebelumnya masih untung sebesar Rp 153,091 miliar.

Beban keuangan juga naik dari Rp 269,078 miliar menjadi Rp 295,462 miliar di semester I-2015.

Rugi penghapusan tanaman perkebunan menurun menjadi Rp 63,015 juta di semester I-2015 dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya sebesar Rp 1,468 miliar.

Membaiknya kinerja UNSP, terbukti dengan berhasilnya Perseroan keluar dari trend penurunan harga komoditas sawit yang berlangsung sejak tahun 2011 hingga kuartal 2-2015. Pada tahun lalu, nilai penjualan UNSP masih tumbuh 27%.

Jika dilihat, harga komoditas sawit utama yaitu CPO (Crude Palm Oil), di kuartal 2-2015 terus melemah ke level terendah US$ 590 per ton FOB Malaysia. Tetapi berkat kerja keras, kata Andi, Perseroan masih mampu membukukan nilai penjualan sebesar Rp 1,08 triliun dan laba kotor Rp 257 miliar di semester 1-2015 seperti pada laporan keuangan 30 Juni 2015.

β€œKami bekerja keras mengatasi kondisi air di kebun akibat kemarau panjang tahun lalu dengan sebaik-baiknya. Hasilnya kami harapkan bisa terlihat di semester berikutnya. Optimalisasi produktivitas pabrik, juga dilakukan dengan pembelian sawit dan karet dari petani yang tidak memiliki pabrik sekaligus membantu kesejahteraan mereka,” paparnya.
Β 
Bibit Unggul

Melalui unit usaha kerja sama patungan PT ASD-Bakrie Oil Palm Seed Indonesia (β€œASD-BSP”), Perseroan juga telah melakukan inovasi melalui pengembangan bibit unggul yang menghasilkan produksi buah sawit lebih banyak dengan luasan lahan kebun yang sama. Bibit unggul ASD-BSP ini berpotensi menghasilkan setiap tahun nya hingga 40 ton Tandan Buah Segar (TBS) per hektar dibandingkan dengan umumnya 25-30 ton.

Saat ini dengan luas pertanaman sawit nasional kurang lebih 10 juta hektar, total produksi hanya sekitar 30 juta ton CPO per tahun, dengan bibit unggul maka potensi produktivitas bisa meningkat menjadi 80 juta ton CPO per tahun dengan asumsi produktivitas 35 ton TBS per hektar dan extraction rate 23%.

Direktur Utama UNSP, M. Iqbal Zainuddin menambahkan, strategi peningkatan produktivitas berkelanjutan yang sedang dilakukan akan lebih banyak lagi dirasakan dampak positifnya dalam jangka menengah dan panjang.

β€œMelanjuti fokus peningkatan produktivitas kebun dan pabrik, kami akan lanjutkan dengan langkah konkrit peningkatan produktivitas aset lainnya dan perbaikan struktur permodalan dengan hasil yang dapat terlihat di 2015. Kami menjadi semakin optimis, dalam jangka menengah dan panjang nanti perusahaan ini akan kembali bangkit menemukan momentum yang terbaik menjadi salah satu perusahaan perkebunan yang memiliki fundamental bisnis yang kuat,” katanya.

(drk/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads