Dolar AS Tembus Rp 13.500, Ini yang Harus Dilakukan Pemerintah

Dolar AS Tembus Rp 13.500, Ini yang Harus Dilakukan Pemerintah

Muhammad Idris - detikFinance
Senin, 03 Agu 2015 15:46 WIB
Dolar AS Tembus Rp 13.500, Ini yang Harus Dilakukan Pemerintah
Jakarta - Nilai tukar dolar Amerika Serikat (AS) masih perkasa terhadap rupiah. Hari ini mata uang Paman Sam sempat menyentuh level Rp 13.500.

Head Analis Forex Monex Investiondo Ariston Tjendra mengatakan, belum ada tanda-tanda rupiah membaik hingga beberapa minggu ke depan. Bahkan, jika kondisi ekonomi belum membaik, ditambah situasi ketidakpastian isu ekonomi dari AS, rupiah masih sulit terkoreksi positif.

“Selama kondisi ekonomi secara fundamental belum ada perbaikan, dan diperparah dengan kenaikan suku bunga di AS, ini (pelemahan rupiah) masih mungkin terjadi,” kata Ariston pada detikFinance, Senin (3/8/2015).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Selain rencana penetapan bunga acuan The Fed dan memburuknya kondisi ekonomi dalam negeri, sambung Ariston, pelemahan rupiah juga imbas ketidakpastian angka pertumbuhan ekonomi di kuartal II-2015.

“Kuartal I kan sudah ditetapkan sebesar 4,7%. Saat ini pelaku pasar juga sedang menanti-nanti angka pasti pengumuman pertumbuhan ekonomi Kuartal II 2015. Ini juga berefek pada pelemahan rupiah, karena estimasi pelaku pasar rata-rata masih pesimis dan penuh gonjang-ganjing,” jelas Ariston.

Ariston mengungkapkan, jika pemerintah tak segera mengambil langkah konkrit perbaikan ekonomi secara fundamental, kepastian kenaikan suku bunga AS dalam beberapa bulan mendatang bisa membuat rupiah lebih anjlok dari nilai sekarang.

“Paling konkrit saat ini adalah infrastruktur. Tekanan ekonomi sekarang sudah sangat tinggi, dan mendorong peningkatan infrastruktur merupakan solusi sekarang paling mendesak dilakukan,” katanya.

“Infrastruktur kan banyak dorong sektor lain dan hasilnya yang paling terlihat cepat di antara yang lain. Rupiah turun kan karena dolar di dalam (negeri) sedikit, kebijakan kenaikan bunga untuk menarik dolar ke dalam juga kurang baik, karena di sisi lain konsumsi jadi berkurang. Kalau infrastruktur didorong, kuartal II harapannya 2015 (pertumbuhan ekonomi) 5% ke atas bisa terealisasi, otomatis rupiah sedikit terbantu,” tambah Ariston.

(ang/ang)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads