Sub Manager Group of Economy Risk and Financial System Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Dienda Siti Rufaedah, mengatakan Kesepakatan yang berhasil dicapai oleh Yunani dengan para kreditur dari Eropa pada 13 Juli 2015 mendorong mayoritas mata uang khususnya negara maju menguat terhadap dolar AS.
"Selain sentimen dari Yunani, risiko pun datang dari gejolak pasar saham di China. Pasar saham China anjlok hingga mencapai 30%, disebabkan oleh kekhawatiran investor pada saham perusahaan yang mengalami bubble," katanya dalam Laporan Perekonomian dan Perbankan LPS bulan Juli, Kamis (6/8/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Investor semacam ini memiliki kolateral yang lemah dan mudah mengalami forced sell ketika pasar mengalami tekanan," ujarnya.
Akibat kedua sentimen ini, IHSG sejak awal tahun hingga penutupan perdagangan kemarin jatuh 7,2%. Sementara dolar AS sudah melonjak ke Rp 13.500.
(ang/dnl)











































