Menurut Sub Manager Group of Economy Risk and Financial System Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Dienda Siti Rufaedah, mata uang di negara maju masih bisa bertahan terhadap penguatan dolar AS.
Berbeda dengan kinerja mata uang negara maju, mayoritas mata uang negara berkembang masih menunjukkan pelemahan terhadap dolar AS, termasuk juga rupiah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tekanan terhadap mata uang rubel didorong oleh anjloknya pasar saham di China menyusul jatuhnya harga minyak. China adalah salah satu konsumen komoditas terbesar dunia sehingga memicu kecemasan melemahnya permintaan global.
Namun bank sentral Rusia menyatakan akan secara aktif melakukan intervensi di pasar, untuk menyokong rubel dari penurunan harga minyak serta guncangan eksternal lainnya.
Di akhir 2015, mata uang rubel diproyeksikan mampu menguat sebesar 6,55% ke level 56,76 per dolar AS.
Sementara meningkatnya permintaan valas untuk pembayaran utang dan dividen di triwulan II-2015 memberikan tekanan terhadap mata uang rupiah.
"Di sisi lain, keputusan Bank Indonesia (BI) untuk mempertahankan BI rate di level 7,5% dinilai mampu menjadi sentimen positif bagi pergerakan rupiah," ujarnya.
Rupiah tercatat mengalami pelemahan terbatas sebesar 0,87% ke level Rp 13.339 per dolar AS di akhir Juli. Prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia yang masih menunjukkan perlambatan berpotensi kembali menekan kinerja rupiah.
(ang/dnl)











































