Kendati demikian, surat utang negara (SUN) yang dikeluarkan pemerintah Indonesia masih jadi pilihan investor asing. Buktinya, hingga akhir Juni 2015 porsi asing pada obligasi atau surat urang pemerintah Indonesia tercatat mengalami kenaikan Rp 76,18 triliun, yakni dari Rp 461,35 triliun menjadi Rp 537,53 triliun.
"Pada bulan Juni 2015, asing membukukan net buy senilai Rp 23,04 triliun, tertinggi sejak bulan Januari 2015," kata Sub Manager Group of Economy Risk and Financial System Lembaga Penjamin Simpanan (LPS), Dienda Siti Rufaedah, dalam Laporan Perekonomian dan Perbankan LPS bulan Juli, Kamis (6/8/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di pasar obligasi pemerintah Indonesia, tekanan jual juga terlihat dari turunnya harga obligasi. Penurunan harga terjadi pada seluruh tenor obligasi.
"Dalam jangka waktu satu bulan, harga obligasi benchmark seri FR0069 tenor 5 tahun turun 0,3% dari 99,81 (Mei 2015) menjadi 99,51 (Mei 2015)," ujarnya.
Sementara itu, harga obligasi seri FR0070 (tenor 10 tahun) mengalami penurunan tertinggi sebesar 1,04% ke level 100,09. Berbanding terbalik, imbal hasil seluruh tenor meningkat dengan peningkatan terbesar ditunjukkan oleh obligasi seri FR0070 (tenor 10 tahun) sebesar 17 bps dari 8,12% ke 8,29%.
"Meskipun terdapat tekanan global yang menyebabkan kenaikan imbal hasil namun investor asing terlihat masih tertarik untuk berinvestasi pada SUN Indonesia," katanya.
(ang/dnl)











































