Anggota Dewan Komisioner Bidang Edukasi dan Perlindungan Konsumen Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Kusumaningtuti S. Soetiono mengatakan, data penurunan tabungan ini terlihat dari menurunnya angka Marginal Propensity to Save (MPS) selama 3 tahun terakhir.
MPS adalah perbandingan antara bertambahnya tabungan dengan bertambahnya pendapatan nasional, yang mengakibatkan bertambahnya tabungan termaksud.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Jadi sejak 2011 terjadi perubahan yang signifikan. Meningkatnya budaya konsumsi, dan budaya menabung menurun. Kesejahteraan masyarakat meningkat yang dilihat dari kenaikan pendapatan per kapita, namun tabungan tidak meningkat," kata wanita yang akrab disapa Titu, dalam acara Focus Group Discussion bersama Redaktur Media Massa, di Hotel Trans Luxury, Bandung, Sabtu (8/8/2015).
Titu menyebutkan, rasio tabungan dibandingkan dengan PDB (Gross National Savings per GDP) di Indonesia berdasarkan data International Monetary Fund (IMF) di 2015, adalah 30,87%. Memang masih di atas Malaysia yang jumlahnya 29,83%.
Namun, angka ini rendah dibandingkan Singapura (46,73%), Korea Selatan (35,11%), dan China (48,87%).
"Kondisi tabungan nasional di Indonesia menurun," ungkap Titu.
Karena itu, OJK menyatakan akan meningkatkan budaya menabung masyarakat, di antaranya dengan meningkatkan akses perbankan ke masyarakat dan juga mengenalkan perbankan ke masyarakat sejak kecil, lewat produk Simpanan Pelajar (Simpel).
Saat ini simpanan pelajar untuk bank syariah sudah meluncur. September nanti akan diluncurkan untuk perbankan konvensional.
"Untuk simpanan pelajar, setoran awal hanya Rp 1.000, tidak ada biaya administrasi, dan tidak ada batasan minimal saldo. Nanti nama tabungannya pakai nama anak itu sendiri," jelas Titu.
(dnl/drk)











































