Pasar keuangan dunia khususnya Asia, tengah geger karena kebijakan China melemahkan mata uang yuan, untuk membuat barang ekspornya bersaing. Indonesia tidak masalah dengan aksi China, karena rupiah juga sudah tertekan (undervalue).
"Kalau kita sih oke-oke saja, selama ini sudah cukup undervalue rupiah kan," kata Menteri Perekonomian Sofyan Djalil, saat ditemui di Kementerian Perekonomian, Lapangan Banteng, Jakarta, Selasa (11/8/2015).
Jadi, langkah China menurunkan yuan ini tidak berpengaruh terhadap daya saing barang ekspor Indonesia. Untuk negara luar, barang Indonesia cukup murah dan bersaing dari segi harga, karena nilai rupiah yang rendah.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Semua berpengaruh dengan depresiasi yang dilakukan oleh pemerintah Tiongkok. Dan itu secara kebijakan dipilih karena untuk mendorong ekspornya. Nah, itu berpenharuh kepada semua negara lain. Saya pikir juga berpengaruh terhadap rupiah," terang Sofyan.
Meski begitu, Sofyan meyakini, pelemahan rupiah ini tidak akan berlangsung lama. Ini hanyalah sentimen global sesaat. "Nah, kita akan lihat bagaimana reaksi dalam 2 hari ini, di belahan dunia lain juga begitu kan," katanya.
Sofyan menilai, kondisi pelemahan mata uang negara-negara Asia ini diharapkan tidak akan berlangsung lama. Menurutnya, kondisi tersebut tidak akan memicu terjadinya perang kurs atau currency war.
"Waduh, jangan lihat dulu ke sanalah (currency war). Tapi yang jelas bahwa China mendepresiasi mata uangnya. Mungkin pertimbangannya adalah mungkin negara-negara lain terjadi depresiasi mata uangnya, maka mereka juga melakukan, supaya lebih kompetitif," tandasnya.
(drk/dnl)











































