Bos Baru Berau Bakal Bereskan Utang Gagal Bayar Rp 6 Triliun

Bos Baru Berau Bakal Bereskan Utang Gagal Bayar Rp 6 Triliun

Muhammad Idris - detikFinance
Rabu, 19 Agu 2015 13:28 WIB
Bos Baru Berau Bakal Bereskan Utang Gagal Bayar Rp 6 Triliun
Jakarta - Usai mengangkat Fuganto Widjaja sebagai direktur utama dalam Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB), PT Berau Coal Energy Tbk (BRAU) langsung bergerak cepat dengan melakukan restrukturisasi utang obligasi sebesar US$ 450 juta yang gagal bayar pada investor Singapura.

Fuganto mengatakan, proses pemulihan utang tersebut akan dilakukan salah satu pemegang saham Asian Resourches Minerals (ARMS) Plc, anak perusahaan Sinarmas Group yang berbasis di Inggris.

"Restrukturisasi obligasi kemungkinan akan dibantu Argyle pemegang saham ARMS sebesar 5% yang berada di Hong Kong. Mereka yang akan bantu selesaikan utang Berau," kata Fuganto ditemui usai RUPSLB di Sampoerna Strategic Square, Jakarta, Rabu (19/8/2015).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Kendati dilakukan Argyle, menurut Fuganto, dana restrukturisasi dan jaminam obligasi tetap dilakukan Berau. Hal itu dilakukan agar pihaknya bisa berfokus membenahi operasional perusahaan yang sahamnya masih di-suspend ini.

Sementara untuk skema penyelesaian yang akan dilakukan Argyle nantinya, sambung Fuganto, pihaknya belum memutuskan opsi pemulihan utang obligas tersebut.

"Tentunya ini didukung operasional, mayoritas effort untuk obligasi semuanya direstrukturisasi. Skemanya belum tau karena sedang ada auditor untuk melihat proyeksi 5 tahun ke depan, untuk melihat kinerja keuangan dan kemampuan membayar utang kita," jelas Mantan Direktur Utama PT Golden Energy Mines Tbk (GEMS), anak perusahaan Sinarmas di tambang batu bara.

Dia mengatakan, pihaknya masih terbuka dengan beberapa opsi penyelesaian utang perseroan, baik dengan penerbitan obligasi baru maupun pinjaman perbankan.

"Belum ada mau loan bank atau bond atau kas internal, masih cari informasi untuk proyeksi," ujar Fuganto.

"Proposal restrukturisasi dari bond dan kas, memang waktu dulu itu planning-nya begitu. Tapi kalau masih bisa dan disetujui, ada syratnya persetujuan dari bond holders, baru bisa dilakukan. Yang penting sustainable. Jangan diulang-ulang restrukturisasinya. Harus dicari tahu dulu kinetrja keuangan dan operasional," pungkas Fuganto.

Berau, kata Fuganto, menargetkan proses penyelesaian masalah utangnya di Singapura akan selesai paling cepat pada Januari 2016.

"Semoga sebelum Januari tahun depan restrukturisasinya beres, kan ada jangka waktu 6 bulan untuk proses," tutup Fuganto.

Sebelumnya, Berau mengalami gagal bayar utang senilai US$ 450 juta atau berkisar Rp 6 triliun. Utang obligasi tersebut diterbitkan anak usahanya di Singapura dan jatuh tempo pada 8 Juli 2015.

Obligasi berkupon 12,5% itu diterbitkan oleh Berau Resources Pte Ltd dan dijamin oleh Berau Coal.

(ang/ang)

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads