China Lemahkan Yuan, BI: Indonesia Tidak Perlu Ikut-ikutan

Dewi Rachmat Kusuma - detikFinance
Kamis, 20 Agu 2015 14:52 WIB
Jakarta - Beberapa negara di dunia berlomba-lomba melemahkan mata uangnya untuk bisa menggenjot pertumbuhan ekonomi mereka.

Salah satunya China yang sengaja mendevaluasi yuan lebih dari 3%. Dengan pelemahan yuan, barang-barang China bisa lebih murah dan ekspornya bisa lebih bersaing.

Vietnam juga melakukan hal yang sama. Vietnam sengaja melemahkan mata uang dong agar perekonomian bisa tetap tumbuh. Saling melemahkan mata uang ini disebut sebagai currency war atau perang mata uang.

Lantas, perlukah Indonesia melemahkan mata uangnya untuk menggenjot pertumbuhan ekonomi?

"Kalau Indonesia tidak perlu ikut-ikutan karena negara-negara emerging market seperti Indonesia, Brasil, Turki, Thailand, Afrika Selatan, Norwegia, mata uangnya sudah melemah," kata Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Mirza Adityaswara saat ditemui di Gedung Mahkamah Agung (MA), Jakarta, Kamis (20/8/2015).

Dia menjelaskan, sebenarnya apa yang terjadi saat ini merupakan sentimen global. Kondisi perekonomian sedang tidak baik saat ini. China yang biasanya pertumbuhan ekonominya mencapai 12%, sekarang hanya bisa tumbuh 6,8%.

Perekonomian Eropa walaupun tumbuh namun melambat. Hanya Amerika Serikat (AS) yang ekonominya masih tumbuh dengan baik walaupun tidak setinggi yang diperkirakan.

Perlambatan ekonomi ini juga menekan mata uang negara-negara tersebut.

"Mata uang di dunia yang menguat hanya dolar AS dan Swiss France. Mata uang dunia memang jelek semua, ada yang melemah 6%, 20%, ada yang sudah 30% seperti mata uang Brasil. Indonesia 10%, Malaysia lebih dari 16%," jelas dia.

Terkait hal itu, BI sebagai otoritas moneter perlu melakukan berbagai antisipasi untuk tetap menjaga kestabilan rupiah.

"Tinggal bagaimana kita mengawal rupiah tetap stabil, supaya siap menghadapi situasi dunia yang memang tidak baik. Jangan ikuti apa maunya currency trader," kata Mirza.

(drk/ang)