BI Sebut Kondisi Perbankan Masih Oke Meski Dolar AS Sudah 13.900

BI Sebut Kondisi Perbankan Masih Oke Meski Dolar AS Sudah 13.900

Dewi Rachmat Kusuma - detikFinance
Jumat, 21 Agu 2015 14:55 WIB
BI Sebut Kondisi Perbankan Masih Oke Meski Dolar AS Sudah 13.900
Jakarta - Posisi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kian tertekan. Dolar AS sudah menembus level Rp 13.900. Meskipun demikian, kondisi perbankan dalam negeri dinilai masih aman dan tetap tumbuh.

Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Erwin Rijanto mengatakan, berdasarkan hasil stress test Bank Indonesia bersama Forum Koordinasi Stabilitas Sistem Keuangan (FKSSK), kondisi perbankan masih dalam keadaan baik.

Meskipun dihitung secara bulanan posisi kredit macet atau Non Performing Loan (NPL) menunjukkan sedikit peningkatan, tapi secara keseluruhan angkanya masih dalam batas aman. NPL gross masih di kisaran 2,58-2,6%, sementara NPL nett di kisaran 1,56%.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Berdasarkan stress test, kalauu kita lihat FKSSK kondisinya memang baik, kita nggak bisa membantah bahwa ukuran salah satunya NPL perbankan baik gross maupun nett jauh di bawah batas tidak aman," katanya saat ditemui di Gedung BI, Thamrin, Jakarta, Jumat (21/8/2015).

Erwin menyebutkan, di samping kondisi kredit macet yang masih terpantau baik, di sektor riil maupun perusahaan-perusahaan masih menunjukkan pertumbuhan kinerja walaupun melambat.

"Kalau dilihat dari bulan ke bulan betul NPL sedikit naik tadinya bulan lalu 2,52% jadi 2,58% bulan ini, ini relatif masih baik, seberapa jauh agak sulit, di riil sektor korporat masih profit, perusahaan terbuka tapi profitnya menurun tapi jangan sampai menurun terus," katanya.

Erwin menyebutkan, secara umum pertumbuhan kredit bank masih menunjukkan perlambatan. Namun, untuk bulan Juli 2015, kredit bank mengalami kenaikan menjadi 10,3%.

Sementara itu, kredit yang disalurkan oleh perbankan pada Juni 2015 tercatat sebesar Rp 3.863,9 triliun, atau tumbuh 10,2% (yoy), melambat dibandingkan pertumbuhan bulan sebelumnya yang sebesar 10,3%(yoy).

"Ada kenaikan sedikit sekali, Juni kan 10,2%, Juli 10,3% jadi sangat kecil sekali," sebut Erwin.

Di sisi lain, risiko pasar juga masih terjaga baik dan belum menunjukkan 'warning' kekhawatiran yang lebih dalam.

"Kalau stress test, kita lihat dolar paling dekat ke risiko pasar, itu dilihat seberapa jauh surat-surat berharga bank berpengaruh, itu dilihat dari yield, sekarang ini surat berharga yang ditrading kondisinya masih oke dan tidak terlalu besar, dari risiko pasar belum terlihat membuat kita harus lebih alert," ucap Erwin.

(drk/ang)
Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Hide Ads