Penurunan bursa Wall Street di Jumat merupakan yang terdalam sejak hampir 4 tahun terakhir.
Aksi jual merundung bursa Wall Street. Para investor tidak mau membeli saham dengan harga yang dianggap sudah tinggi saat ini, di tengah masih lesunya perekonomian dunia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Banyak analis meilai, penurunan sudah terlalu dalam, dan kemungkinan pekan depan akan kembali rebound alias naik.
"Anda bisa melihat badai yang terjadi karena situasi di China," kata Analis, Andrew Frankel, dilansir dari Reuters, Sabtu (22/8/2015).
Indeks Dow Jones turun 530,94 poin (3,12%) ke 16.459,75. Indeks S&P 500 turun 64,84 poin (3,19%) ke 1.970,89. Sementara indeks Nasdaq turun 171,45 poin (3,52%) ke 4.706,04.
Pekan depan, investor akan fokus menunggu data penjualan perumahan di AS, dan juga prediksi soal pertumbuhan ekonomi di kuartal II-2015.
Soal waktu kenaikan bunga acuan oleh bank sentral AS, yaitu Federal Reserve (The Fed), masih ada yang memprediksi bakal naik di September. Namun mayoritas investor, kali ini memprediksi kenaikan bunga acuan akan mundur ke Desember 2015.
Saham Apple yang menjadi saham termahal di AS, harganya turun 4,6% menjadi US$ 107,44 per lembar.
Jumlah saham yang ditransaksikan Jumat di Wall Street mencapai 10,6 miliar lembar, di atas rata-rata harian sebanyak 6,75 miliar lembar.
(dnl/dnl)











































