Sikap berlebihan yang dimaksud Darmin adalah langkah pelaku pasar yang buru-buru membeli dolar AS dalam jumlah besar begitu mendengar berita penurunan nilai mata uang yuan yang disengaja oleh China tanpa mencari tahu terlebih dahulu kondisi sebenarnya.
Hal ini menyebabkan pelemahan rupiah lebih dalam dari seharusnya karena permintaan dolar AS menjadi tinggi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Padahal, menurut darmin, pelemahan Rupiah harusnya tidak sedalam saat ini hanya karena langkah pemerintah China tersebut. Karena menurutnya, bukan Indonesia yang seharusnya menerima dampak pelemahan yuan melainkan negara lain yang menjadi saingan dagang China.
Tujuan China melemahkan mata uangnya sendiri kata Darmin adalah untuk membuat produk barang yang dihasilkannya memiliki harga yang lebih murah di pasar ekspor.
Bagi negara lain yang memiliki produk sejenis dengan kualitas sama dengan yang dibuat China, langkah ini bisa menjadi ancaman karena barangnya kemungkinan tidak laku di pasar ekspor karena kalah murah dengan barang China.
Namun, bagi Indonesia seharusnya kodisi itu harusnya tidak jadi masalah karena tak banyak barang sejenis yang diproduksi Indonesia dengan China. Justru ancaman paling besar harusnya dialamai Jepang, Korea, dan Amerika yang sama-sama bersaing di pasar ekspor seperti contohnya barang elektronik.β
"Sebetulnya China devaluasi (turunkan nilai mata uangnya), yang dirugikan adalah siapa yang paling bersaing dengan dia, itu dia yang paling terkena harusnya," kata Darmin.
Untuk itu, ia meminta agar pelaku pasar tidak berlebihan merespons kondisi global yang terjadi bukan hanya saat ini tetapi juga dikemudian hari. Tujuannya agar dampak secara nasional tidak makin buruk.
(dna/ang)











































