Keempat BUMN itu adalah PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), dan PT Garuda Indonesia Tbk (GIAA).
Demikian disampaikan Deputi Bidang Usaha Jasa Keuangan, Jasa Konstruksi, Jasa Survei, dan Jasa Lain BUMN Gatot Tri Hargo saat ditemui di Gedung DPR/MPR RI, Senayan, Jakarta, Selasa (25/8/2015).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Namun, Gatot menjelaskan, pihaknya belum bisa menyebutkan besaran nilai buyback saham dari masing-masing BUMN.
Yang pasti, kata dia, secara total dana yang telah disiapkan mencapai Rp 10 triliun. Dana tersebut bukan berasal dari Penanaman Modal Negara (PMN), namun dari kas masing-masing BUMN.
"Nggak ada sama sekali PMN, dari free cash flow masing-masing BUMN saja. Saya nggak tahu detilnya tapi signifikan, seperti yang disebutkan Bu Rini kan in total Rp 10 triliun," jelas dia.
Lebih jauh Gatot menjelaskan, buyback saham ini juga bisa dilakukan oleh masing-masing BUMN tersebut.
"Jadi tujuan Bu Menteri adalah untuk stabilisasi pasar karena kalau dari sisi yang kita lihat kan asing yang keluar sudah Rp 40 triliun. Kemudian market share kita kan sekitar 30%, jadi sekitar Rp 12 triliun, jadi yang penting bagaimana stabilisasi pasar modal, yang kedua untuk memperbaiki struktur perusahaan karena ada yang detil segala macam, BUMN bisa mempunyai yang juga untuk MSOP untuk karyawan," terang dia.
Proses buyback ini, kata Gatot, nantinya akan dibantu oleh Bahana Securities, Mandiri Sekuritas, dan Danareksa Sekuritas sebagai arranger-nya. Gatot menambahkan, proses eksekusi buyback saham sudah dilakukan hari ini.
"Harusnya hari ini mulainya," imbuh Gatot.
(drk/ang)











































