"Kita lihat realistisnya berbeda dengan tahun 1997 (krisis ekonomi), yang pertama rusak adalah bank, berbeda dengan yang sekarang yang rusak makro. Jadi artinya kalau itu masalahnya, caranya bagaimana kita mengurangi impor. Kita naikkan pendapatan rakyat dengan proyek-proyek pemerintah dan harus cepat," ujar Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK), sebelum menghadiri World Summit on Peace, Security and Human Development-Sunhak Peace Prize, Seoul, Korea Selatan, Rabu (26/8/2015).
Tidak hanya rupiah yang terus melemah terhadap dolar, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tren penurunan dalam beberapa hari terakhir. Menurut JK, kondisi ini bukan karena sentimen negatif dari investor yang pesimistis melihat ekonomi Indonesia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
JK mengakui, betapa perkasanya dolar AS saat ini, di mana tidak hanya rupiah saja, tapi banyak mata uang di banyak negara melemah terhadap dolar AS.
"Yen begitu, yuan begitu, ringgit begitu, rupiah begitu. Artinya adalah memang dolar itu lebih kuat kepada semua mata uang. Tetapi hubungan kita dengan yen, yuan dan lainnya tidak terpengaruh. Artinya membeli barang di Korea tidak berubah harganya dengan rupiah yang sama. Kita bisa beli barang yang sama di Korea hari ini, walau pun melewati dolar," jelasnya.
(rrd/hen)











































