"Kita jelaskan bahwa memang kondisi khususnya nilai tukar itu dalam banyak hal karena kondisi di luar negeri yaitu negara AS yang membaik yang mau menaikkan bunga, China yang melemah, harga komoditi yang tiga tahun terus menerus setiap tahun menurun, dan harga minyak yang kemarin masalah Iran selesai itu juga sudah turun," kata Agus Marto usai bertemu pimpinan DPR di lantai 3, Nusantara III, DPR, Rabu (26/8/2015)
Agus menjelaskan kebijakan China yang melemahkan mata uangnya yuan, agar ekspornya bisa tumbuh dan ekonomi mereka bisa naik lagi. Selain itu, Agus mengatakan soal pelemahan mata uang tak hanya terjadi pada rupiah namun mata uang negara lainnya. Rupiah sejak Januari-Agustus hanya melemah 13%, sedangkan negara lain lebih tinggi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menegaskan, BI memberi jaminan bahwa BI akan selalu ada di pasar dan menjaga stabilitas pasar valuta asing, dan menjaga cadangan devisa untuk menjaga ketahanan ekonomi Indonesia.
"Untuk jangka pendek, BI mengeluarkan tujuh kebijakan untuk merespons perkembangan kondisi sekarang, antara lain BI akan menjalankan perjanjian currency swap, karena kami nggak ingin rupiah yang terlalu pendek digunakan untuk membeli valas. Kita mengubah cara melakukan lelang untuk time deposit valas, sertifikat deposit BI, kita gunakan fix rate," katanya.
Agus menambahkan, BI menurunkan batasan pembelian valas di pasar agar tak banyak dolar yang terserap untuk tujuan yang tak perlu, sehingga perlu ada dokumen underlying.
Sementara itu, Wakil Ketua DPR Fadli Zon mengatakan meski Agus Marto masih optimistis melihat perkembangan kondisi ekonomi dalam beberapa akhir ini. Menurut Fadli, dalam pertemuan itu ada beberapa masukan DPR yang diberikan untuk BI.
"(Masukan) ya tadi termasuk masalah-masalah yang umum dan khusus. Faktor internal, eksternal dan domestik. Kita ingin melihat apa yang dilakukan BI sudah sesuai dengan prosedur dan BI masih optimis fundamental kita masih baik," kata Fadli usai pertemuan.
Pimpinan DPR mengingatkan kejadian 1997-1998. Saat itu, seluruh aparat dari pejabat pemerintah seperti Menteri Keuangan sampai Gubernur BI mengatakan kondisi ekonomi bagus.
"Dulu pun 1997/1998 semua aparat pemerintah mulai dari Gubernur BI sampai menteri keuangan mengatakan fundamental keuangan kita kuat semuanya bagus-bagus saja, semua bisa di-handle, tapi ternyata jebol," sebutnya.
Fadli menambahkan lebih baik jajaran pemerintah lebih konservatif untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya kriris. Hal ini dilakukan agar tak terkejut dan lebih siap menghadapi.
"Saya menyampaikan lebih bagus kita lebih konservatif lebih over estimate dalam menghadapi krisis ketimbang kita under estimate nanti kita terkaget-kaget kalau kita under estimate," tutur politisi Gerindra ini.
(hen/rrd)